MAJALENGKA,FOKUSJabar.id: Di saat banyak desa masih berjibaku menghadapi tekanan ekonomi, Desa Gunungkuning, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, justru tampil sebagai contoh nyata keberhasilan membangun kemandirian dari akar rumput.
Melalui pengelolaan anggaran yang transparan dan optimalisasi potensi lokal, desa ini membuktikan bahwa kesejahteraan warga bisa di wujudkan secara kolektif.
Salah satu perubahan paling terasa di rasakan langsung oleh masyarakat. Warga kini tak lagi di pusingkan oleh iuran rutin, baik untuk kegiatan keagamaan, perayaan Hari Kemerdekaan, hingga acara hajat lembur.
Seluruh kebutuhan tersebut telah tertopang oleh kas RT yang di kelola secara mandiri dan berkelanjutan.
Baca Juga: Buka Dapur Anggaran, Desa Gunungkuning Majalengka Tetapkan Standar Baru Transparansi Desa
Kepala Desa Gunungkuning, Rudi Yudistira Gozali, menjelaskan bahwa fondasi kemandirian itu di bangun dari kebijakan desa yang konsisten mengalokasikan anggaran ke tingkat RT.
Setiap RT menerima dana stimulan sebesar Rp5 juta per tahun yang bersumber dari Pendapatan Asli Desa (PADes).
“Dari total itu, Rp1 juta khusus untuk kegiatan HUT RI, sedangkan Rp4 juta sisanya menjadi kas RT yang di kelola sesuai kebutuhan warga,” ujar Rudi, Rabu (21/1/2026).
Kebijakan tersebut ternyata melahirkan dampak berlipat. Seiring waktu, kas RT tidak hanya bertahan, tetapi terus berkembang. Bahkan, ada RT yang kini memiliki saldo kas hingga lebih dari Rp200 juta. Sementara sebagian besar RT lainnya rata-rata telah mengantongi kas minimal Rp25 juta.
“Dengan kondisi seperti ini, RT tidak perlu lagi menarik iuran dari warga. Semua kegiatan sosial, keagamaan, dan kemasyarakatan bisa di biayai dari kas yang ada,” jelasnya.
Pengelolaan Anggaran Secara Produktif
Dana yang di gelontorkan desa pun tidak habis begitu saja. Melalui musyawarah warga di tujuh RT yang ada, anggaran tersebut di kelola secara produktif.
Sebagian digunakan untuk melengkapi inventaris lingkungan, sementara lainnya dikembangkan menjadi modal usaha yang terus berputar.
Kunci keberhasilan lain, menurut Rudi, terletak pada prinsip keterbukaan. Seluruh pengelolaan anggaran dilakukan secara transparan dan dapat diakses oleh warga.
“Di sini tidak ada yang ditutup-tutupi. Semua pengelolaan anggaran dilakukan secara terbuka. Karena itu, kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah desa sangat kuat,” tambahnya.
Sumber kekuatan ekonomi Desa Gunungkuning juga ditopang oleh keberhasilan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dalam mengelola destinasi wisata Situ Cipanten. Pada tahun 2025, desa ini berhasil mencatat PADes fantastis mencapai Rp2,5 miliar.
Tak hanya mengandalkan sektor wisata, Gunungkuning juga terkenal sebagai sentra hortikultura unggulan di Kabupaten Majalengka. Mayoritas warganya memiliki keahlian dalam pembibitan tanaman buah, mulai dari teknik cangkok hingga stek, yang bernilai ekonomi tinggi.
Menariknya, keahlian tersebut telahtertanam sejak dini. Anak-anak desa sudah terbiasa membantu proses pembibitan sejak usia sekolah. Alhasil, setelah lulus, mereka tidak kesulitan mencari penghidupan.
“Anak-anak di sini tidak bingung mencari kerja. Mereka langsung terjun ke dunia hortikultura. Potensi ekonomi dari bibit unggul ini sangat menjanjikan,” pungkas Rudi.
Langkah Desa Gunungkuning menjadi bukti bahwa dengan tata kelola yang jujur, inovatif, dan berpihak pada masyarakat, desa mampu berdiri mandiri dan menghadirkan kesejahteraan nyata bagi warganya.
(Abdul)


