spot_img
Rabu 21 Januari 2026
spot_img

Dari Ikon Wisata Jadi Bangunan Mati, Potret Pusat Belanja Pangandaran

PANGANDARAN,FOKUSJabar.id: Gemerlap pusat belanja wisata yang sempat digadang-gadang menjadi ikon baru Pantai Pangandaran kini tinggal kenangan. Deretan bangunan permanen yang berdiri di kawasan wisata andalan Jawa Barat itu tampak terbengkalai, rusak, dan nyaris kehilangan denyut aktivitas ekonomi.

Pantauan di sejumlah titik menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Dinding bangunan berkarat, genteng banyak yang jebol, lorong-lorong ruko gelap dan sempit, bahkan dipenuhi sampah serta bau tak sedap. Di beberapa sudut, botol minuman keras berserakan, sementara ilalang tumbuh menutupi papan bertuliskan aset milik Pemerintah Kabupaten Pangandaran.

Baca Juga: Jelang Ramadhan, Polres Pangandaran dan MUI Sepakat Perangi Miras dan Judi Online

Sedikitnya terdapat empat pusat belanja wisata di kawasan Pantai Pangandaran, yakni Nanjung Sari, Nanjung Endah, Nanjung Elok, dan Nanjung Asri, yang tersebar di wilayah Pantai Barat dan Pantai Timur. Seluruhnya dibangun dalam bentuk ruko-ruko berukuran sekitar 3 x 2 meter sebagai lokasi relokasi pedagang.

Kawasan ini sejatinya sebagai solusi penataan pedagang kaki lima yang sejak 1986 berjualan menggunakan tenda biru di sepanjang bibir pantai. Tujuannya jelas, memperindah wajah Pantai Pangandaran sekaligus menciptakan kawasan wisata yang lebih tertib dan nyaman. Pusat belanja tersebut berjalan pada 2017, pada masa kepemimpinan Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Bupati Pangandaran Jeje Wiradinata.

Namun, harapan besar itu tak bertahan lama. Seiring berjalannya waktu, aktivitas jual beli kian sepi. Minimnya kunjungan wisatawan ke area ruko membuat pedagang satu per satu menutup lapaknya. Dari 1.364 pedagang yang sempat mendapat relokasi, kini hanya segelintir yang masih bertahan.

Sebagian pedagang yang tersisa bahkan kembali berjualan di area depan pantai, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tak sedikit pula yang memasang kembali tenda biru tepat di depan bangunan permanen agar dagangan mereka terlihat oleh wisatawan.

Lorong Ruko Gelap dan Sempit

Salah satu mantan pedagang, Satimin (42), mengaku terpaksa menutup tokonya karena tak sanggup bertahan menghadapi sepinya pembeli.

“Lorong rukonya cuma sekitar satu meter, gelap dan sempit. Gimana mau menarik pengunjung,” ujarnya, Rabu (21/1/2026).

Menurut Satimin, bangunan permanen yang megah tidak otomatis menjamin ramainya pembeli. Wisatawan, kata dia, cenderung memilih berbelanja di kios yang langsung menghadap ke jalan atau pantai.

“Kalau harus masuk ke lorong-lorong sempit di bagian dalam, kebanyakan pengunjung malas,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran, Dadan Sugistha, membenarkan bahwa pusat belanja wisata tersebut merupakan aset milik Disparbud.

Ia menegaskan, ke depan bangunan tersebut harus kembali memiliki fungsi dan manfaat. Namun, sebelum melangkah lebih jauh, pihaknya akan melakukan kajian menyeluruh terkait konsep pengelolaan.

“Kami akan kaji dulu, mulai dari pendataan pedagang yang masih bertahan hingga kondisi bangunan kios yang ada,” ujar Dadan.

Kajian tersebut harapannya menjadi dasar penentuan arah pemanfaatan pusat belanja wisata agar tidak terus menjadi bangunan mati di tengah kawasan wisata unggulan Pangandaran.

(Sajidin)

spot_img

Berita Terbaru