spot_img
Selasa 20 Januari 2026
spot_img

Permainan Bandar Picu Harga Daging Tinggi di Ciamis

CIAMIS,FOKUSJabar.id: Tingginya harga daging sapi di Pasar Manis Ciamis belakangan ini bukan di sebabkan kelangkaan sapi. Melainkan di picu oleh persoalan rantai distribusi dan biaya operasional yang di nilai memberatkan pedagang lokal.

Kondisi tersebut muncul karena tidak ada pedagang daging di Ciamis yang berani melakukan penyembelihan sapi hidup di Rumah Potong Hewan (RPH).

Biaya operasional pemotongan yang di anggap tinggi membuat para pedagang memilih jalan praktis dengan membeli daging siap jual dari bandar besar di Tasikmalaya.

Baca Juga: Alun-alun Ciamis Jadi Pusat Dakwah Pesantren Ortodok pada Peringatan Isra Mi’raj

Akibatnya, harga daging sapi di tingkat pasar ikut terdongkrak dan sulit di kendalikan.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Ciamis, Anton Wahyu menilai, jika pedagang lokal berani memotong sapi sendiri harga daging di pasaran berpotensi lebih rendah dan tidak sepenuhnya di kendalikan oleh bandar besar.

“Kalau ada pedagang yang memotong sapi sendiri, harga bisa lebih terkontrol. Yang terjadi sekarang bukan karena sapi mahal. Tapi lebih ke permainan bandar besar,” ujar Anton.

Ia mengakui, kondisi tersebut membuat pemerintah daerah berada pada posisi sulit untuk menekan harga daging sapi di pasaran. Menurutnya, lonjakan harga sapi biasanya terjadi pada momen tertentu seperti Idul Adha, namun situasi saat ini berbeda.

“Kalau Idul Adha memang wajar harga sapi naik. Tapi sekarang, yang mahal itu dagingnya, bukan sapi hidupnya,” jelasnya.

Biaya Pemotongan Daging Tinggi

Anton menambahkan, tingginya permintaan masyarakat terhadap daging sapi, yang tidak diimbangi dengan ketersediaan stok di tingkat pedagang lokal, membuat hukum ekonomi berjalan secara alami.

“Ketika permintaan tinggi sementara persediaan terbatas, otomatis harga naik. Itu hukum ekonomi,” katanya.

Sementara itu, Eros, salah seorang pedagang daging sapi di Pasar Manis Ciamis, membenarkan bahwa dirinya tidak melakukan penyembelihan sendiri. Ia mengaku lebih memilih membeli daging dari bandar di Pasar Induk Tasikmalaya karena biaya pemotongan di RPH dinilai terlalu besar.

“Kalau motong sendiri biayanya tinggi. Jadi kami beli daging langsung dari bandar,” ungkapnya.

Eros menyebut, stok daging di tingkat bandar sebenarnya cukup tersedia. Namun kenaikan harga dari pemasok membuat pedagang terpaksa menyesuaikan harga jual kepada konsumen.

“Barangnya ada, tapi harganya naik. Mau tidak mau, kami ikut menyesuaikan,” pungkasnya.

(Husen Maharaja)

spot_img

Berita Terbaru