spot_img
Kamis 15 Januari 2026
spot_img

Suhu Udara di Bandung Lebih Dingin, Ini Penjelasan BMKG

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Suhu udara di wilayah Bandung Raya Jawa Barat (Jabar) dalam beberapa hari terakhir ini terasa lebih dingin.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), kondisi tersebut di pengaruhi oleh kombinasi faktor atmosfer global, regional hingga lokal yang saling menguatkan.

BACA JUGA:

BMKG: Ini Wilayah Berpotensi Hujan Tinggi hingga 20 Januari

BMKG mencatat, suhu minimum di Bandung Raya berada pada kisaran 19–20 derajat Celsius dengan suhu maksimum 30–32 derajat Celsius.

Bahkan, data pengamatan menunjukkan suhu udara minimum terendah pada Januari 2026 terjadi pada 4–8 Januari 2026 sebesar 20,2 derajat Celsius. Sementara suhu maksimum tertinggi tercatat 31,4 derajat Celsius.

“Penyebab suhu dingin di Bandung karena tutupan awan yang banyak, panas yang dilepaskan setelah hujan serta adanya konvergensi dan belokan angin yang berpengaruh terhadap kecepatan angin di wilayah Bandung menjadi lebih kencang sampai dengan 20 km per jam,” kata Kepala BMKG Bandung, Teguh Rahayu dikutip kompas.com.

Dia menyebut, periode musim hujan ini menyebabkan suhu dingin di wilayah Jawa Barat. Khususnya Bandung dan sekitarnya.

Menurutnya, hujan berasal dari lapisan atmosfer atas yang lebih dingin membawa suhu tersebut ke permukaan.

“Penguapan (evaporasi) air hujan yang jatuh menguap dan menyerap panas dari permukaan tanah, tumbuhan dan udara menyebabkan suhu menjadi dingin. Konduksi dan konveksi membuat udara dingin yang lebih padat turun dan menggantikan udara hangat di permukaan saat hujan,” jelasnya.

Beberapa faktor lainnya, konvergensi dan belokan angin serta suhu muka laut yang masih hangat di sekitar perairan Jawa Barat juga berpengaruh terhadap cuaca saat ini.

BACA JUGA:

BMKG Ingatkan Potensi Banjir dan Longsor di Jawa Tengah

“Suhu dingin saat musim hujan adalah hal yang normal. Di tambah lagi dengan hujan yang berturut-turut dan tutupan awan yang masif beberapa hari ini membuat sinar matahari tidak bisa mencapai bumi,” ucapnya.

Kondisi kelembapan udara yang relatif tinggi pada lapisan atmosfer 850–700 mb (sekitar 50–90 persen) juga mendukung pembentukan awan dan hujan. Sehingga turut mempertahankan suhu tetap rendah.

Dari sisi global, indeks ENSO di Nino 3.4 tercatat -0,90. Ini  berpengaruh terhadap peningkatan pola konvektif di sebagian wilayah Indonesia.

MJO yang aktif di kuadran 6 (western Pasifik) memperkuat potensi hujan hingga sepekan ke depan.

BACA JUGA:

Gunung Marapi Meletus, Status Level II Waspada

Di tingkat regional, anomali suhu permukaan laut (SST) di perairan Jawa Barat yang masih cukup hangat turut mendorong pertumbuhan awan hujan di wilayah daratan.

Untuk periode 14–21 Januari 2026, BMKG memprakirakan kondisi cuaca di Jawa Barat umumnya cerah berawan hingga berawan pada pagi hari.

Kondisi tersebut berpotensi hujan ringan hingga lebat di sertai petir dan angin kencang pada siang, sore dan malam hari.

Suhu udara di perkirakan berada pada kisaran 18–32 derajat Celsius, dengan kelembapan 55–95 persen dan angin dominan dari barat berkecepatan 5–30 km per jam.

Secara khusus untuk Bandung Raya, cuaca pada periode tersebut di prakirakan berpotensi hujan ringan hingga sedang.

Suhu udara berada pada rentang 20,0–31,0 derajat Celsius serta angin barat dengan kecepatan sekitar 5–19 km per jam.

BMKG mengimbau, masyarakat untuk lebih waspada. Pasalnya dalam beberapa hari ke depan beberapa wilayah di Jawa Barat di perkirakan mengalami peningkatan intensitas hujan.

Masyarakat di harapkan dapat mengambil langkah antisipatif agar aktivitas harian tetap berlangsung aman dan lancar.

“Terkait cuaca saat ini, masyarakat di imbau untuk menjaga kesehatan. Tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor dan angin kencang serta selalu meng-update perkembangan cuaca terkini dari laman resmi BMKG,” pungkasnya.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru