TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di balik gegap gempita laga El Clasico Indonesia antara Persib Bandung kontra Persija Jakarta, tersimpan kegelisahan mendalam mengenai masa depan sepak bola di Kota Tasikmalaya yang dikenal sebagai Kota Santri. Minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan sepak bola lokal menjadi sorotan utama.
Kegelisahan tersebut mengemuka dalam diskusi publik bertajuk “Sepak Bola dan Ruang Publik” yang digelar Komunitas Cermin di Buleud Galery, Minggu (11/1/2026). Forum ini dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, mulai dari Ketua Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT), Anggota DPRD yang juga Ketua PSSI Kota Tasikmalaya, hingga perwakilan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar).
Pembina Komunitas Cermin, Asmansyah Timutiah atau akrab dengan sapaan Acong, menegaskan sepak bola tidak sekadar olahraga, melainkan bagian penting dari kesehatan sosial dan indeks kebahagiaan masyarakat. Namun, perhatian pemerintah terhadap penyediaan sarana dan prasarana masih sangat minim.
Baca Juga: Musrenbang RKPD 2027, Sukanagara Tasikmalaya Prioritaskan Infrastruktur dan Pemberdayaan Warga
“Kami belum melihat keberpihakan yang nyata. Ruang bermain bagi anak-anak dan remaja semakin menyempit, banyak yang beralih fungsi atau tidak terawat. Padahal ruang publik merupakan hak masyarakat untuk bersosialisasi sekaligus berolahraga,” ujar Acong.
Senada dengan itu, Ketua PSSI Kota Tasikmalaya H. Wahid, yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD, menilai dukungan Pemkot Tasikmalaya terhadap sepak bola masih belum menyentuh akar rumput. Meski ada alokasi anggaran melalui KONI, menurutnya dampak tersebut belum terasa secara langsung oleh pembinaan sepak bola daerah.
“Kehilangan lapangan-lapangan representatif di tingkat kelurahan dan kecamatan membuat banyak potensi muda kehilangan ruang untuk berkembang,” ungkapnya.
Investasi Sosial Jangka Panjang
Sementara itu, Ketua DKKT Tatang Pahat menekankan bahwa ruang publik, termasuk lapangan sepak bola, bukan sekadar lahan fisik, melainkan bagian dari identitas kota. Menurutnya, investasi pada ruang publik adalah investasi sosial jangka panjang untuk membentuk karakter masyarakat.
Menanggapi berbagai kritik tersebut, Kepala Bidang Pemuda dan Olahraga Disporabudpar Kota Tasikmalaya, Momon Suryaman, mengakui ketersediaan lapangan sepak bola yang layak memang belum memenuhi harapan masyarakat. Namun, ia menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah perbaikan.
“Saat ini pemerintah telah menyusun Detail Engineering Design (DED) untuk pembangunan tiga lapangan sepak bola baru. Selain itu, kami juga terus berupaya meningkatkan fasilitas dengan menyesuaikan kebutuhan masyarakat dan kemampuan anggaran daerah,” jelas Momon.
Dari pembahasan ini menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat Tasikmalaya merindukan kebangkitan sepak bola lokal yang mendapat dukungan fasilitas memadai. Harapannya, rencana teknis yang telah tersusun tidak berhenti sebagai dokumen. Melainkan segera terealisasi menjadi ruang publik yang menghidupkan kembali semangat sportivitas dan kebersamaan di Kota Tasikmalaya.
(Abdul)


