spot_img
Sabtu 10 Januari 2026
spot_img

Ini Program Pemkot Bandung Atasi Sampah dan Stunting

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pemkot Bandung Jawa Barat (Jabar) memastikan program sirkular pengelolaan lingkungan dan ketahanan pangan masyarakat telah mulai berjalan di sejumlah wilayah.

Program ini mengintegrasikan pengolahan sampah, urban farming serta pemenuhan gizi masyarakat melalui Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat).

BACA JUGA:

Bandung Diambang Bencana? Forum Koridor Angkat Bicara

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan menyampaikan, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah belum meratanya keberadaan Dahsat di tingkat RW.

Oleh karena itu, Pemkot Bandung memprioritaskan pembentukan minimal satu Dahsat di setiap kelurahan sebagai fondasi awal program.

“Kalau Buruan Sae dan pengolahan sampah rata-rata di kelurahan sudah ada. Yang sekarang kita pastikan dulu adalah dapur sehat atasi stunting di tingkat kelurahan,” kata Farhan, Sabtu (10/1/2026).

Menurutnya, Pemkot Bandung juga memberi perhatian khusus kepada kelurahan yang memiliki keterbatasan lahan. Terutama dalam pengelolaan dan pengolahan sampah.

Untuk wilayah tersebut disiapkan skema penanganan khusus agar tetap dapat terlibat dalam program sirkular.

“Memang ada kelurahan yang lahannya terbatas. Penanganannya tidak bisa disamakan dengan wilayah yang lahannya memadai,” katanya.

BACA JUGA:

Puluhan Pabrik RDF di Jabar Jadi Tujuan Pengiriman Sampah Kota Bandung

Secara konsep, program sirkular dirancang membentuk rantai berkelanjutan. Sampah organik diolah menjadi kompos atau media tanam untuk urban farming.

Hasil urban farming kemudian dimanfaatkan oleh dapur sehat untuk mendukung pemenuhan gizi masyarakat. Khususnya pencegahan stunting. Sisa dari aktivitas dapur selanjutnya kembali masuk ke sistem pengolahan sampah.

“Sebetulnya masing-masing program sudah berjalan sendiri-sendiri. Tinggal kita integrasikan polanya. Dari sampah ke urban farming, dari urban farming ke dapur sehat, lalu sampah dapur kembali diolah,” jelasnya.

Selain itu, Pemkot Bandung juga menyiapkan pengelolaan sampah skala kota melalui pengiriman ke pabrik Refuse Derived Fuel (RDF) di wilayah Jawa Barat, namun di luar Kota Bandung.

BACA JUGA:

Usulan Pilkada Dipilih DPRD, Begini Sikap Wali Kota Bandung

Sampah tersebut akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif industri untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.

“Banyak pabrik besar. Terutama yang menggunakan mesin uap masih bergantung pada batu bara. Untuk menekan biaya, mereka membangun fasilitas RDF. Ke sanalah sampah kita kirim,” pungkasnya.

(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru