spot_img
Kamis 8 Januari 2026
spot_img

Virus Super Flu Masuk Indonesia, Ini Kata Menteri Kesehatan

JAKARTA, FOKUSJabar.id: Menteri Kesehatan (Menkes), Budi Gunadi Sadikin mengatakan, virus super flu varian H3N2 subclade K berbeda dengan Corona Virus Disease (Covid-19).

Menurut Menteri Kesehatan, angka kematian karena virus Super Flu sangat rendah.

BACA JUGA:

Dinkes Garut Perketat Skrining Super Flu

Dia menerangkan, super flu pada dasarnya sama dengan influenza tipe A. Tetapi varian K.

Seperti halnya saat pandemi Covid-19. Di mana banyak varian seperti Omicron, Delta, Betha hingga Alpha.

“Super flu memang menular dengan cepat. Namun angka kematiannya sangat rendah,” kata Budi.

“Jadi bukan satu virus baru,” Menkes menambahkan.

Budi menyebut, kejadian super flu kerap terjadi saat musim dingin dan di negara-negara maju.

Berdasarkan laporan yang diaterima, di Indonesia sudah teridentifikasi. Namun jumlahnya masih puluhan.

Penyembuhan flu dapat dilakukan dengan pengobatan biasa. Meski begitu, Dia mengimbau masyarakat agar tetap hati-hati dan tidak perlu panik.

Untuk menghindarinya, lakukan imunisasi, rajin mencuci tangan dan mengenakan masker.

“Tidak usah panik. Super Flu bukan Covid-19,” ungkapnya.

BACA JUGA:

Waspada Musim Hujan, 6 Penyakit yang Sering Muncul dan Cara Menghindarinya

Mengutip bisnis.com, Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Rokomyanmas mengatakan, pihaknya telah mendapatkan 800 sampel influenza dari seseorang yang positif influenza di beberapa daerah.

Sampel dikirimkan ke Lab Biokesehatan yang ada di Jakarta. Sekitar 40 persen disampling dan ditemukan influenza A PDM 09.

Meskipun tidak seperti Covid-19, pihaknya tetap melakukan pemantauan melalui surveillance setiap hari dengan menghimpun laporan dari setiap daerah.

Thermal scanner, juga telah diaktifkan kembali untuk mendeteksi seseorang yang diduga tidak dalam keadaan sehat. Terutama di pintu masuk-keluar negara (Bandara).

BACA JUGA:

Tetap Sehat di Musim Hujan: Tips Ampuh Hadapi Cuaca Ekstrem

Aji mengatakan, pihaknya juga memantau laporan dari WHO dan CDC untuk nantinya disandingkan dengan laporan hasil uji sampai di laboratorium di Jakarta.

“Nanti situasinya kita pantau secara epidemiologis. Apakah situasi ini masih ringan, sedang atau sudah tinggi. Kewaspadaannya kita lakukan,” tutup Aji.

(Bambang Fouristian)

spot_img

Berita Terbaru