spot_img
Kamis 8 Januari 2026
spot_img

Warga Keluhkan Penutupan Total Akses di Flyover Nurtanio Bandung

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Warga mengeluhkan penutupan total akses pejalan kaki di sekitar Flyover Nurtanio yang mulai diberlakukan sejak Selasa (6/1/2026). Kebijakan tersebut dinilai menyulitkan mobilitas harian warga, terutama pelajar, mahasiswa, pedagang kecil, hingga mereka yang membutuhkan akses darurat.

Maman (48), warga setempat, mengatakan ketiadaan jalur penyeberangan membuat aktivitas menuju kawasan Husein Sastranegara semakin berat.

Baca Juga: Belanja Efektif Pemprov Jabar, SilPa APBD Rp500 Ribu

“Yang mau nyebrang ke arah Husein enggak ada penyeberangan. Anak sekolah kasihan, mau stop angkot juga susah,” ujarnya, Rabu (7/1/2026).

Tak hanya itu, Maman menyebut sejumlah mahasiswa yang tinggal di sekitar lokasi terpaksa mencari jalur alternatif yang berbahaya.

“Ada mahasiswa sampai lewat gorong-gorong. Banyak yang ngekos di sini, kalau harus muter itu jauh dan ongkos nambah,” tuturnya.

Keluhan senada disampaikan Udeng (57). Menurutnya, penutupan total tersebut berdampak besar terhadap kehidupan sosial masyarakat.

“Bukan cuma pejalan kaki. Pedagang kecil juga kesulitan. Kalau ada warga meninggal, mengantar jenazah pun harus memutar jauh,” kata Udeng.

Menanggapi keluhan tersebut, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menjelaskan bahwa penutupan akses di Flyover Nurtanio bersifat sementara, sembari menunggu penyelesaian fasilitas pendukung jalan.

“Semalam saya lihat separonya masih tutup karena kelengkapan jalan belum selesai. Tapi sejauh ini sudah sangat membantu, terutama saat arus Natal dan Tahun Baru,” ujar Farhan, Rabu (7/1/2026).

Farhan mengakui kebutuhan akses penyeberangan menjadi aspirasi yang paling banyak masyarakat sampaikan. Salah satu usulan adalah pembangunan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang memungkinkan warga melintasi jalur kereta api.

“Alhamdulillah ada banyak masukan dari warga, salah satunya permintaan JPO. Itu akan kami pertimbangkan,” katanya.

Namun, ia menekankan bahwa pembangunan JPO membutuhkan kajian teknis mendalam karena konstruksinya harus sejajar dengan flyover untuk bisa melintasi jalur kereta api. Hal ini membuat ketinggian struktur menjadi tantangan tersendiri.

“Masalahnya, tingginya harus sejajar dengan flyover. JPO-nya harus benar-benar melintasi jalur kereta api,” jelas Farhan.


(Yusuf Mugni)

spot_img

Berita Terbaru