CIAMIS,FOKUSJabar.id: Upaya mewujudkan Kabupaten Ciamis sebagai Kabupaten Organik 2026 terus digencarkan hingga ke tingkat kelurahan dan desa. Salah satu wilayah yang menunjukkan progres signifikan adalah Kelurahan Cigembor, Kecamatan Ciamis, yang kini semakin agresif memperluas pengembangan padi organik.
Jika sebelumnya padi organik di Cigembor hanya dibudidayakan di lahan seluas sekitar 300 bata, pada tahun 2026 pengembangan tersebut ditargetkan melonjak menjadi 1,3 hektare dan melibatkan 49 petani organik.
Lurah Cigembor, Nandra Orlando, menyebut langkah ini merupakan inovasi kebijakan kelurahan sekaligus bentuk dukungan konkret bagi visi Bupati Ciamis dalam membangun pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
“Awalnya hanya sekitar 300 bata dan hasilnya lebih banyak untuk konsumsi sendiri. Tahun 2026 kami tingkatkan menjadi 1,3 hektare dengan 49 petani organik yang terlibat,” ujar Nandra.
Sebagai bentuk penguatan regulasi, Kelurahan Cigembor menetapkan bahwa lahan sawah bengkok milik kelurahan yang disewakan kepada masyarakat wajib ditanami padi organik. Kebijakan ini bukan sekadar aturan administratif, melainkan juga sebagai sarana edukasi agar petani terbiasa dengan pola tanam berkelanjutan.
“Kami memberi harga sewa lebih ringan, tetapi dengan ketentuan menggarap lahan harus secara organik. Ini komitmen kami mendukung Program Kabupaten Organik 2026,” jelasnya.
Nandra menyebut sebagian besar petani telah mengikuti sosialisasi awal dan akan mendapatkan pelatihan lanjutan. Sebab, sistem pertanian organik membutuhkan perlakuan berbeda, mulai dari teknik budidaya hingga pengelolaan hama.
Pendampingan Intensif
Pendampingan intensif berjalan bersama Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), mencakup teknik menanam hingga pemetaan peluang pemasaran beras organik.
“Fokus kami saat ini membangun pemahaman petani. Jika pemahamannya kuat, maka ke depan beras organik Cigembor punya nilai ekonomi yang menjanjikan,” katanya.
Pendampingan teknis diperkuat oleh PPL Wilayah Binaan Cigembor, Deden Fajar Arief, yang menyebut kebutuhan pupuk organik petani dapat dipenuhi dari limbah kotoran hewan (kohe) yang tersedia cukup melimpah.
“Bahan baku pupuk organik tersedia dari limbah kohe di Balai Pembibitan Sapi Pasundan dan RPH. Petani bisa mengolahnya sendiri,” ujar Deden.
Dalam waktu dekat, pihaknya bersama kelurahan akan menggelar pelatihan budidaya padi organik serta pembuatan pupuk organik agar petani makin mandiri dan mampu menekan biaya produksi.
“Pendampingan harus berkelanjutan karena penanganan padi organik berbeda dengan non-organik,” tambahnya.
Bahkan, koordinasi lintas pihak terus berjalan. Pertemuan lanjutan bersama praktisi organik akan terselenggara di Kelurahan Cigembor untuk memastikan kesiapan teknis di lapangan berjalan optimal.
Salah satu petani organik, Elan Maulana, menyampaikan apresiasi atas dukungan kelurahan dan PPL dalam pengembangan pertanian organik.
“Pertanian organik ini banyak manfaatnya. Tanah jadi lebih gembur, pH tanah lebih stabil,” ujarnya.
Elan berharap pengembangan padi organik di Cigembor terus bertambah seiring meningkatnya pemahaman petani serta kuatnya sinergi kelurahan, PPL, praktisi, RPH, dan masyarakat.
“Semoga pertanian organik di Cigembor semakin berkembang, tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga bernilai ekonomi, sehingga berkontribusi untuk mewujudkan Ciamis sebagai Kabupaten Organik,” pungkasnya.
(Nank Irawan)


