CIAMIS,FOKUSJabar.id: Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis mulai memperluas penerapan pembelajaran coding di tingkat sekolah dasar (SD) sebagai bagian dari pengembangan Kurikulum Merdeka berbasis project based learning. Pembelajaran ini dinilai penting untuk membentuk pola pikir logis dan sistematis pada anak sejak usia dini.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Ciamis, Sigit Ginanjar, mengatakan coding bukan sekadar kegiatan membuat aplikasi atau perangkat lunak, melainkan proses membangun cara berpikir terstruktur.
Baca Juga: Balad Galuh Beri Warning Puncak Masih Rentan, PSGC Diminta Fokus Jelang Putaran Ketiga
“Coding itu bukan hanya membuat sistem. Yang lebih penting adalah membangun pola pikir anak bagaimana mereka belajar menyelesaikan masalah secara logis dan sistematis,” ujar Sigit.
Menurutnya, pendidikan coding membantu anak terbiasa memahami alur berpikir, menyusun langkah-langkah pemecahan masalah, dan membangun reasoning yang rapi dan sederhana.
“Itu modal penting menghadapi era digital,” tambahnya.
158 SD Sudah Terapkan Coding
Dari total 743 SD di Kabupaten Ciamis, sebanyak 158 sekolah telah menerapkan pembelajaran coding dalam berbagai skema, baik sebagai mata pelajaran tambahan maupun kegiatan ekstrakurikuler.
Sigit menjelaskan bahwa implementasi coding melalui tiga pendekatan:
Kokurikuler berbasis proyek Mengintegrasikan coding dalam proyek pembelajaran tematik dan konsep yang mendorong kreativitas siswa.
Intrakurikuler Mengaitkan materi logika komputasi dalam pelajaran inti. Lebih tepatnya mempelajari penggunaan logika formal untuk merancang, menganalisis, dan membuktikan kebenaran sistem algoritma, serta program, dengan tujuan memecahkan masalah secara sistematis dan efisien.
Ekstrakurikuler Seperti pengembangkan klub robotik dan teknologi. Namun, Sigit menjelaskan bahwa kegiatan robotik memerlukan biaya lebih besar karena membutuhkan perangkat khusus. Jadi pihaknya tidak memaksakan arah penerapan pembelajaran yang memakan banyak biaya.
“Pembelajaran lebih fokus pada penerapan berfikir logis dan efisien dalam memecah permasalahan sejak dini,” ucap Sigit.
Kesiapan Sekolah dan Tantangan Infrastruktur
Meski banyak sekolah mulai menerapkan coding, sejumlah tantangan masih muncul di lapangan, terutama:
Ketersediaan perangkat TIK yang belum merata, Banyak SD yang masih minim komputer atau akses internet memadai. Guru perlu pelatihan coding dasar agar mampu mendampingi siswa secara efektif.
Kegiatan kegiatan Ekstrakurikuler robotik mendorong antusiasme siswa, tetapi anggaran sekolah kerap menjadi hambatan pengadaan alat.
Disdik Ciamis menargetkan seluruh SD dapat terakomodasi secara bertahap.
“Kami mendorong agar semua sekolah bisa menerapkan coding, minimal dalam bentuk pengenalan logika komputasi. Ini investasi penting bagi masa depan anak-anak Ciamis,” kata Sigit.
(Irfansyahriza)


