BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan pembangunan fasilitas park and ride akan menjadi langkah strategis untuk mengatasi maraknya parkir liar yang hingga kini masih terlihat di berbagai titik Kota Bandung.
Menurut Farhan, Pemerintah Kota Bandung saat ini tengah melakukan identifikasi lahan sekaligus mencari investor yang bersedia terlibat dalam proyek tersebut. Namun prosesnya belum diumumkan secara resmi karena masih menunggu keputusan dan pembahasan lanjutan.
Baca Juga: Wali Kota Bandung Antisipasi Dampak Proyek BRT
“Kita sekarang sedang mencari lahan dan investor. Identifikasi lahan itu penting. Setelah itu, DPMPTSP akan menggelar forum khusus untuk menjaring investor di sektor parkir,” ujar Farhan di Balai Kota Bandung, Senin (5/1/2026).
Prioritas Lokasi: Gerbang Kota dan Jalur Utama
Farhan menjelaskan, fasilitas park and ride akan terfokus di kawasan pintu masuk kota dan koridor lalu lintas yang memiliki tingkat kemacetan tinggi. Salah satu lokasi utama yang disiapkan berada di kawasan Pasteur, yang selama ini menjadi titik keluar-masuk kendaraan terbesar di Kota Bandung.
“Yang pasti itu di gerbang kota, khususnya Pasteur. Lalu di jalur tengah kota timur–barat, dan untuk koridor utara–selatan kami siapkan di kawasan Otista,” jelasnya.
Penindakan Parkir Liar Belum Efektif
Terkait penindakan, Farhan mengakui langkah yang Pemerintah lakukan selama ini belum memberikan efek jera karena sifatnya hanya sementara.
“Penertiban kita ini hit and run, seperti ngusir nyamuk. Kita usir, datang lagi. Tidak akan selesai kalau hanya begitu,” katanya.
Ia menegaskan, tanpa menyediakan fasilitas parkir yang memadai, tindakan penertiban hanya akan menjadi solusi jangka pendek.
Selain itu, penindakan terhadap oknum juru parkir liar juga terkendala regulasi karena hanya bisa dijerat tindak pidana ringan (tipiring).
“Itu hanya bisa kena tipiring, tidak bisa memprosesnya lebih jauh,” ungkap Farhan.
Pelanggar Terus Berulang di Kawasan Rawan
Selama masa libur Tahun Baru, puluhan pelanggar parkir liar sudah ditindak. Namun, praktik yang sama kembali terjadi keesokan harinya.
“Puluhan penindakan, besoknya muncul lagi. Capek juga ngelihatnya,” ujarnya.
Sejumlah kawasan tetap menjadi titik rawan, seperti Tamansari, Braga, Asia Afrika, hingga kawasan Alun-alun Bandung. Bahkan, petugas kembali menemukan kendaraan yang parkir di trotoar Tamansari sehingga harus melakukan penertiban.
Farhan pun menegaskan pentingnya percepatan pembangunan fasilitas parkir agar persoalan ini bisa teratasi secara sistematis dan berkelanjutan.
“Solusinya bukan hanya penindakan. Kita harus membangun fasilitas parkir yang benar,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)


