BANDUNG, FOKUSJabar.id: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung mencatat, jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Bandung selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 tercatat mencapai sekitar 4,5 juta orang.
Angka tersebut di hitung selama kurang lebih 10 hari, sejak akhir pekan sebelum 25 Desember hingga awal Januari.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan, mengatakan, angka tersebut di peroleh berdasarkan prediksi dan pemantauan bersama aparat kepolisian, termasuk data kendaraan yang masuk ke Kota Bandung.
Baca Juga: Realisasi PAD Kota Bandung Tembus 90 Persen, Sektor Pajak Tetap Jadi Penopang
“Prediksinya kemarin itu di kisaran 4,5 juta dan memang pas di angka itu. Penghitungannya selama periode Nataru, sekitar 10 harian,” kata Adi Sabtu (3/1/2025).
Dengan tambahan kunjungan tersebut, total wisatawan ke Kota Bandung sepanjang 2025 di pastikan melampaui target tahunan 8,75 juta kunjungan.
Adi menyebutkan, sejak triwulan ketiga jumlah kunjungan sudah berada di angka sekitar 6,5 juta orang
“Sebetulnya saya sudah sampaikan, kalau sampai triwulan tiga itu 6,5 juta, berarti di akhir tahun pasti akan membludak dan melampaui target,”katanya.
Adi menilai tingginya kunjungan wisatawan ke Bandung di pengaruhi beberapa faktor. Salah satunya adalah kondisi ekonomi yang melemah sehingga wisatawan memilih destinasi yang lebih dekat dan terjangkau, khususnya kota Bandung.
“Kelihatannya karena ekonomi sedang melemah. Wisatawan dari Jabodetabek akhirnya memilih Bandung karena paling dekat dan mudah di jangkau. Selain itu, beberapa destinasi lain seperti Bali juga di laporkan mengalami penurunan kunjungan,” jelasnya.
Lebih lanjut Adi mengatakan, lonjakan wisatawan juga berdampak pada tingkat hunian hotel, terutama di kawasan pusat kota dan destinasi wisata.
Hotel Okupansi Penuh
Berdasarkan pemantauan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata langsung pada malam tahun baru, sejumlah hotel bahkan mencatat okupansi penuh.
Baca Juga: Ruang Terbuka Hijau, Pemkot Bandung Kejar Target 30 Persen
“Di hotel-hotel pusat kota seperti Kimaya, D’Braga, hingga Vasaka, ada yang mencapai 100 persen. Tapi di hotel yang agak jauh dari pusat destinasi, okupansinya di kisaran 60 sampai 70 persen, ada juga yang 80 persen. Jadi memang tidak merata,”ujarnya.
Adi menambahkan, target kunjungan wisatawan tahun 2026, Adi menyebut penetapannya akan melalui mekanisme perhitungan dan evaluasi mendalam.
Pemerintah akan melihat secara detail pola kunjungan wisatawan, destinasi yang paling meningkat, serta sebarannya.
“Nanti kalau sudah di analisis lebih detail, baru kita bisa menghitung proyeksi secara lebih akurat untuk tahun depan,” pungkasnya.
(Yusuf Mugni)


