GARUT, FOKUSJabar.id: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Garut menutup tahun 2025 dengan fokus utama pada sinkronisasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029 dan upaya mencapai target Indeks Pembangunan Manusia (IPM).
Selain itu, Bappeda Garut juga merumuskan langkah konkret untuk memastikan pembangunan fisik. Seperti proyek Tol Gedebage-Garut-Tasikmalaya (Getaci) benar-benar terintegrasi dengan pengembangan potensi ekonomi lokal.
BACA JUGA:
Patroli Dini Hari, Sat Samapta Polres Garut Bantu Pengendara Mogok
Kepala Bappeda Garut, Natsir Alwi menegaskan, RPJMD 2025-2029 telah ditetapkan melalui Perda No3 Tahun 2025 sebagai dokumen perencanaan lima tahunan yang merupakan turunan tahap pertama dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) 2025-2045.

Visi pembangunan Garut yang tertuang dalam RPJMD 2025-2029 adalah “Terwujudnya Garut Hebat dan Berkelanjutan.” Salah satu sasaran utamanya, meningkatnya kualitas SDM dengan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator kuncinya.
“Capaian IPM Kabupaten Garut telah menunjukkan tren positif yang konsisten. Dari 67,20 poin pada tahun 2020 kini mencapai 69,91 pada tahun 2024,” kata Natsir Alwia kepada FOKUSJabar, Selasa (16/12/2025).
Dia menambahkan, pada tahun 2025 IPM Garut sudah mencapai 70,67 poin, melebihi target RPJMD 2025 sebesar 70,57 poin.
Peningkatan status pembangunan manusia di Kabupaten Garut saat ini telah naik dari kategori “sedang” (60 ≤ IPM <70) menjadi “tinggi” (70 ≤ IPM < 80).
BACA JUGA:
Polsek Leles Selidiki Kebakaran Rumah di Desa Jangkurang Garut
“Kami menargetkan IPM akan mencapai 73,68 poin pada tahun 2029. Dan 74,39 poin pada tahun 2030,” kata Natsir.
Pencapaian ini didukung oleh proyeksi target makro daerah dalam RPJMD. Termasuk target IPM yang meningkat secara bertahap dari baseline 70,57 (2025) menjadi 73,68 poin pada 2029.
Penurunan Tingkat Kemiskinan ditargetkan turun dari 8,20–9,06 persen (2025) menjadi 6,94–7,64 persen pada 2029.
Peningkatan Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) ditargetkan dari 5,06 persen (2025) menjadi 5,42–7,88 persen pada 2029.
Selain itu, peningkatan PDRB per kapita dari Rp30,49–31,68 juta (2025) menjadi Rp34,59–38,74 Juta pada 2029.
Meskipun menunjukkan pertumbuhan positif, Natsir mengakui IPM Garut (70,67 poin pada 2025) masih berada di bawah capaian IPM Provinsi Jawa Barat (74,92) dan nasional (75,02) pada tahun 2024.
Garut masih menduduki peringkat ke-26 dari 27 Kabupaten/Kota di Jawa Barat.
Menanggapi rendahnya Rata-rata Lama Sekolah (RLS) Garut yang pada 2024 masih 7,85 tahun (di bawah Jawa Barat 8,87 tahun dan Nasional 8,85 tahun), Bappeda telah menyiapkan strategi khusus.
Pada tahun 2025, RLS Garut hanya meningkat tipis menjadi 7,86 tahun.
“Strategi kami berfokus pada Pengurangan Angka Putus Sekolah dan Peningkatan Rata-rata Lama Sekolah,” jelas Natsir Alwi.
Menurut Dia, hal tersebut dilakukan melalui deteksi dini siswa berisiko drop out dan pemberian bantuan pendidikan terintegrasi bagi kelompok miskin rentan.
BACA JUGA:
Serius! Pemkab Garut Jamin Kesetaraan Akses Kerja Penyandang Disabilitas
Selain itu, program kunci adalah penguatan jalur non-formal melalui penyiapan kapasitas Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) untuk program pendidikan kesetaraan (Paket A, B dan C) bagi masyarakat usia produktif yang diyakini dapat berdampak cepat pada peningkatan RLS.
Komitmen Anggaran Beasiswa Pendidikan Tinggi
Dalam rangka meningkatkan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi, Bappeda meluncurkan Program Unggulan Beasiswa Pendidikan SDM Hebat. Yakni, program Satu Desa Satu Sarjana dan Bantuan Biaya Pendidikan Tinggi bagi Mahasiswa.
Program tersebut diatur melalui Peraturan Bupati Garut Nomor 39 Tahun 2025 dan menyasar keluarga tidak mampu, berprestasi dan mahasiswa yang aktif dalam organisasi.
Secara rinci, Natsir memaparkan alokasi anggaran program beasiswa untuk tahun 2025 dan 2026.
- Beasiswa 1 Desa 1 Sarjana
Pada tahun 2025, program ini dialokasikan untuk 442 desa/kelurahan dengan total anggaran sebesar Rp1.768.000.000 untuk satu semester.
Untuk tahun 2026, alokasi tetap 442 desa/kelurahan. Namun diperluas menjadi dua semester. Sehingga anggaran meningkat menjadi Rp3.536.000.000.
- Bantuan Biaya Pendidikan Tinggi bagi Mahasiswa
Pada tahun 2025, bantuan ini diberikan kepada 1.125 mahasiswa dengan total anggaran Rp4.500.000.000 per tahun.
Terwujudnya Program Satu Desa Satu Sarjana, menurut Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, sebagai “dreams come true.” Mengingat ini adalah janji politiknya untuk memberikan kesempatan kuliah bagi warga Garut.
“Sebenarnya bagi kami, ini adalah sesuatu kebanggaan. Kalau boleh dibilang dreams come true. Dulu saya janji ingin memberikan kesempatan kepada orang Garut untuk kuliah. Alhamdulillah bisa terealisasi,” katanya.
BACA JUGA:
4 Poin Aksi Damai DPC Apdesi Merah Putih Garut
Natsir mengatakan, pada tahun 2026 alokasi disesuaikan menjadi 1.005 mahasiswa. Total anggaran Rp4.020.000.000 per tahun.
Pemerintah Kabupaten Garut mengalokasikan anggaran sekitar Rp6,268 milyar untuk beasiswa pendidikan tinggi pada tahun 2025 dan Rp7,556 milyar pada tahun 2026.
Optimalisasi Tol Getaci
Terkait proyek Tol Getaci (Gedebage-Garut-Tasikmalaya) yang merupakan program prioritas nasional, Bappeda memastikan pembangunan infrastruktur ini terintegrasi dengan potensi ekonomi lokal.

Pembangunan Tol Getaci Tahap I akan melewati 4 Kecamatan. Exit Tol tahap I berada di Desa Pamekarsari, Kecamatan Banyuresmi.
“Pembangunan Tol Getaci secara makro akan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi, efisiensi logistik dan memberikan dukungan signifikan kepada sektor pariwisata, perdagangan serta investasi,” ungkap Natsir.
Untuk mencegah dampak mikro negatif seperti alih fungsi lahan pertanian produktif dan hilangnya mata pencaharian, Bappeda menyiapkan langkah-langkah optimalisasi.
- Tata Ruang Terintegrasi
Mengintegrasikan rencana tol ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) untuk menentukan lokasi exit tol strategis yang terhubung langsung ke pusat-pusat ekonomi lokal (industri, pariwisata, pertanian).
2. Pusat Ekonomi Baru
Merumuskan kebijakan untuk menciptakan Pusat Ekonomi Baru di area Exit Tol melalui pemberdayaan masyarakat berbasis keunikan lokal, sekaligus sebagai antisipasi kehilangan mata pencaharian.
3. Fasilitasi Investasi
Menggunakan keberadaan tol sebagai daya tarik untuk menarik investor ke area sekitar exit tol. Harapannya, dapat membuka lapangan kerja baru.
4. Rehabilitasi Agribisnis
Melakukan rehabilitasi sistem agribisnis yang terdampak (lahan, irigasi dan jalan usaha tani) untuk memastikan produksi pertanian tidak terhambat.
BACA JUGA:
Tiap Senin dan Jumat Wabup Garut Naik Angkot
“Semua langkah ini bertujuan untuk mentransformasi ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan. Sekaligus memperkuat daya saing Kabupaten Garut berbasis potensi lokal,” tutup Natsir Alwi.
(Y.A. Supianto)


