TASIKMALAYA, FOKUSJabar.id: Untuk menilai seberapa makmur sebuah negara, jangan hanya melihat gedung-gedung tinggi perhatikan desa-desa di dalamnya. Di sinilah jantung Indonesia berdenyut. Antara sawah dan ladang yang menyuplai kebutuhan pangan, di tengah nilai-nilai kerjasama yang membentuk identitas bangsa.
Lebih dari tujuh puluh persen wilayah Indonesia terdiri dari kawasan pedesaan, dan lebih dari separuh populasi mendiami area tersebut. Namun, di tengah kemajuan zaman dan percepatan di gitalisasi, desa sering kali tertinggal. Koneksi yang lemah, sarana dan prasarana yang terbatas.
Demikian di sampaikan Dosen dan pemerhati Pembangunan Pedesaan, STIE Latifah Mubarokiyah Suryalaya Tasikmalaya, Endang Syarif, Sabtu (29/11/2025).
Baca Juga: Inilah Visi-Misi Ijang Hilman Mubarok untuk KNPI Kab. Tasikmalaya
Serta arus urbanisasi yang tidak terhindarkan, Endang melanjutkan, menyebabkan banyak generasi muda meninggalkan tempat asal mereka. Dengan itu, desa yang seharusnya menjadi fondasi ekonomi nasional justru tertinggal di belakang gemerlap kota. Dan jika akar lemah, maka dengan itu batang yang tinggi juga dapat mudah roboh.
Tidak hanya itu, isu Klasik yang masih menghambat Program Dana Desa seharusnya membawa semangat baru bagi pembangunan lokal. Namun, sejumlah masalah lama masih mencuat. Kesenjangan antara desa dan kota masih besar, transparansi dalam pengelolaan dana belum merata, ketergantungan pada bantuan dari pemerintah pusat masih tinggi, dan transformasi digital belum berjalan dengan optimal.
Dalam situasi ini, peran lembaga ekonomi desa menjadi sangat signifikan, baik BUMDes maupun koperasi. Banyak desa yang memiliki BUMDes, namun jumlah koperasi modern yang benar-benar berfungsi sebagai penyangga ekonomi masyarakat masih minim.
Oleh karena itu, gagasan mengenai Koperasi Desa Merah Putih berpotensi menjadi kekuatan baru dalam memperkuat kemandirian ekonomi desa di samping BUMDes yang sudah ada sebelumnya.
Perekonomian nasional menunjukkan pertumbuhan yang stabil, inflasi terjaga, dan tingkat kemiskinan ekstrem menurun. Namun, masyarakat desa belum sepenuhnya mengalami manfaat dari pertumbuhan ini. Tantangannya adalah menjembatani kebijakan makro agar dapat benar-benar dirasakan di tingkat mikro dalam kehidupan sehari-hari keluarga di desa dan pasar-pasar lokal.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berpotensi untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak sekolah. Tetapi juga untuk mendorong ekonomi desa secara struktural. Agar program ini memberikan manfaat maksimal, di perlukan kerjasama di dalam kelembagaan desa:
- BUMDes sebagai pengelola logistik dan distribusi
BUMDes dapat berfungsi sebagai pusat koordinasi pembelian, penyimpanan, dan distribusi bahan pangan untuk program MBG. Dengan manajemen yang profesional, BUMDes dapat memastikan proses distribusi dari petani hingga ke dapur sekolah berjalan dengan lancar.
- Koperasi Desa Merah Putih sebagai pusat optimalisasi produksi dan pemberdayaan masyarakat
Koperasi Desa Merah Putih berpotensi menjadi wadah ekonomi berbasis anggota: petani, peternak, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah, serta kelompok wanita tani. Koperasi ini mampu:
- Mengumpulkan hasil produksi petani secara kolektif,
- Menjaga stabilitas harga,
- memberikan akses kepada modal mikro,
- menyalurkan bahan baku untuk program MBG,
- memfasilitasi pengolahan hasil pertanian berbasis desa.
Pada titik inilah terjadi sinergi: BUMDes menangani aspek bisnis desa, sementara Koperasi Desa Merah Putih focus pada kesejahteraan ekonomi rakyat. BUMDes yang kuat menciptakan desa yang mandiri. Koperasi yang kuat masyarakat yang sejahtera. Keduanya bersatu menghasilkan gerakan ekonomi desa yang kokoh.
- Kelompok PKK sebagai pelaksana pengolahan bahan pangan desa
Dengan memanfaatkan bahan baku dari koperasi dan logistik dari BUMDes, dapur-dapur di desa dapat berfungsi sebagai ruang pemberdayaan wanita dan pencipta lapangan kerja. Model integrasi ini menjadikan MBG sebagai program yang memiliki efek berganda yang tinggi: menyerap hasil pertanian lokal, meningkatkan penghasilan keluarga, dan memfasilitasi pertumbuhan kegiatan ekonomi baru.
Baca Juga: Jelang Musda XVI KNPI, Ini Harapan Tokoh Pemuda Tasikmalaya
Desa seharusnya berfungsi sebagai pusat produksi, bukan sekadar penerima kebijakan. Melalui konsep “produksi di desa, konsumsi di sekolah,” program MBG memiliki potensi untuk memperkuat ekonomi yang berdimensi akar rumput. Koperasi Desa Merah Putih dan BUMDes berperan sebagai dua pilar yang saling melengkapi, bukan saling bertentangan. “BUMDes berfungsi sebagai mesin penggerak ekonomi desa. Koperasi bertindak sebagai mesin perekonomian masyarakat. Keduanya bergerak secara sinergis untuk menciptakan kesejahteraan yang merata.
Langkah-Langkah konkret: Dari gagasan menjadi gerakan untuk desa Maju:
- Memperkuat Pengelolaan Digital di DesaTransformasi menuju digitalisasi desa sangat penting untuk meningkatkan akuntabilitas dan efisiensi. Koperasi dan BUMDes perlu segera beralih ke sistem pencatatan berbasis digital.
- Menghidupkan Kembali BUMDes sebagai Motor Ekonomi
BUMDes harus memiliki standar profesionalisme, transparansi, dan konektivitas dengan pasar. BUMDes berfungsi sebagai fondasi untuk distribusi pangan dalam program MBG.
- Memperkuat Koperasi Desa Merah Putih sebagai Lembaga Ekonomi Masyarakat
Koperasi harus dikelola dengan cara modern: mengandalkan data produksi, system pembayaran digital, dan model bisnis kolektif. Koperasi dapat berperan sebagai pengumpul produk lokal, penstabil harga, serta Lembaga penyedia pembiayaan mikro yang produktif.
- Memberdayakan Generasi Muda di Desa
Kaum muda menjadi penggerak digitalisasi bagi BUMDes dan koperasi: meliputi e-commerce pangan, fintech mikro desa, dan teknologi pertanian.
- Membangun Rantai Pasokan Pangan Berbasis Desa
Dengan kolaborasi antara BUMDes dan Koperasi, desa dapat mengembangkan system logistic secara mandiri.
- Kolaborasi Pentahelix
Kerjasama antara pemerintah, akademisi, swasta, komunitas, dan media sangat penting untuk mempercepat transformasi ekonomi di desa.
Menjahit Masa Depan dari Desa
Setelah satu tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, telah muncul peluang untukinovasi kebijakan yang berpihak kepada masyarakat. Namun, kesuksesan pembangunan nasional tentu sangat tergantung pada ketahanan desa.
Di sinilah Koperasi Desa Merah Putih dan BUMDes memainkan peran yang krusial sebagai dua sayap ekonomi yang saling melengkapi bukan bersaing. Tetapi bergerak Bersama demi kemandirian desa.
“Sebab, sejatinya kekuatan bangsa ini berasal dari lapisan bawah, bukan dari Gedung-gedung tinggi di kota, melainkan dari dapur, pasar, dan ladang di desa tempat kehidupan sejati Indonesia berkembang dan bersemi,” pungkasnya.
(Yud’s)


