spot_img
Rabu 19 Juni 2024
spot_img
More

    Relasi Historis Picu Perkembangan Islam di Eropa

    BANDUNG,FOKUSJabar.id: Islam di Eropa berkembang sejak 1960 dan bertambah sepuluh kali lipat di medio 1990 hingga tahun 2000 an, bahkan menjadi ‘agam’ kedua di Eropa.

    Demikian disampaikan Prof Karim Ifrak Ahmed dari Universitas Sorbonne Paris, Prancis dalam kuliah umum bertajuk ‘ Perkembangan Islam di Eropa’ di Aula Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat (17/5/2024).

    “Saat ini  jumlah Islam di Eropa Utara dan Timur mencapai 25 sampai 30 juta orang. Mereka berasal dari empat komunitas besar, seperti Turki, Indo Pakistan, hingga Afrika,” kata Karim Ifrak.

    Islam Turki umumnya tinggal di Prancis, Jerman dan Belgia, kemudian ada Islam komunitas Indo-Pakistan yang banyak tinggal di UK, Prancis dan Spanyol. Ada juga komunitas Afrika yang umumnya tinggal di Perancis.

    BACA JUGA: Membersihkan Diri di Hari Jumat: Sunnah dan Keutamaannya dalam Islam

    Menurut dia, perkembangan Islam di Eropa tidak terlepas dari relasi sejarah kolonialisme bangsa Eropa terhadap Afrika yang dihuni mayoritas Islam.

    Latar belakang negara yang berbeda membuat karakteristik Muslim di Eropa beragam serta memiliki relasi historis berbeda, terlebih mereka berasal dari negara yang berbeda.

    Seperti Muslim di Prancis, di sana ada 10 juta orang muslim hidup dengan karakteristik berbeda, baik dari aspek aqidah, pandangan fikih hingga sikap politik dan intelektualitas.

    Hampir semua muslim di Prancis tidak mengikuti aktivitas politik, ekonomi dan budaya. Mereka pun tidak memiliki fasilitas untuk mencetak kaum-kaum intelektual (sekolah).

    “Mereka tidak memiliki media massa sendiri, tidak memiliki partai politik, bahkan lembaga wakaf dan layanan publik lainnya,” kata dia.

    Alhasil, keberadaan Islam di Prancis menjadi lemah seperti kertas kecil atau buih. Tidak heran di sana banyak terjadi agresi dan terjadi Islamphobia.

    Tidak hanya itu, kehidupan Muslim di Eropa pun tidak terorganisasi dengan baik atau terbatas hanya organisasi daerah (komunitas negara asal).

    Adapun aktivitas yang mereka lakukan saat ini, yakni:

    • ‌Membangun dan mengelola Masjid
    • Belajar Bahasa Arab
    • Melaksanakan Shalat Tarawih saat Ramadhan
    • Melaksanakan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha
    • Mengkoordinir pelaksanaan haji dan umroh
    • Menyediakan makanan halal
    • Melaksanakan sertifikasi imam Masjid
    • Mengelola pernikahan Islam dan
    • ‌Mengelola pemakaman muslim

    Sementara itu, Direktur Pascasarjana Prof Ahmad Sarbini menyambut baik kegiatan kuliah umum sebagai bagian dari program rektor. Hal itu penting agar UIN Sunan Gunung Djati mencapai program rekognisi internasional.

    “Kami menyambut baik kegiatan ini, terlebih narasumber didatangkan dari luar negeri,” kata Ahmad Sarbini saat membuka acara.

    (LIN)

    Berita Terbaru

    spot_img