spot_img
Jumat 19 April 2024
spot_img
More

    Membangun Perpustakaan Berarti Menghadirkan Infrastruktur Bagi Generasi Mendatang

    BANJAR,FOKUSJabar.id: Melongok ke dalam bagian dari gedung layanan perpustakaan umum daerah Kota Banjar yang baru diresmikan seperti mengadaptasi ruang layanan Perpustakaan Nasional.

    Memodifikasi undak-undakan sebagian sebagai alas duduk yang tiap di sisinya berjejal buku-buku. Di lantai atas, pojok baca Bank Indonesia (BI Corner) siap menyambut pemustaka yang ingin berselancar pengetahuan.

    Pembangunan gedung setinggi empat lantai yang berasal dari alokasi dana alokasi khusus (DAK) senilai Rp 10 miliar. Wali Kota Banjar berharap dapat menjadi pusat literasi dan kegiatan inklusi sosial yang mensejahterakan masyarakat.

    “Inklusi sosial terbukti banyak membantu masyarakat pada aspek kemandirian dan kesejahteraan masyarakat,” ujar Wali Kota Banjar Ade Uu Sukaesih ketika meresmikan gedung perpustakaan daerah bersama Kepala Perpustakaan Nasional.

    Pembangunan Gedung Perpustakaan untuk Generasi Masa Depan

    Membangun gedung perpustakaan menurut Kepala Perpusnas Muhammad Syarif Bando seperti menghadirkan infrastruktur bagi generasi masa depan.

    Generasi masa depan tidak cukup hanya dengan pembangunan bermodal alam yang suatu saat habis. Mereka perlu pembekalan modal pengetahuan lewat membaca.

    “Yang diperlukan adalah kesadaran masyarakat untuk mau membaca, karena literasi bermula dari kebiasaan membaca sehingga muncul kedalaman pemahaman. Yaitu pemahaman terhadap ilmu pengetahuan tertentu yang pada akhirnya mampu memproduksi barang/jasa berkualitas dan bernilai tinggi,” imbuh Syarif Bando.

    Syarif bando mengharapkan Indonesia tidak boleh terus-menerus mengekspor bahan mentah lalu ekspor dan kembali dalam bentuk jadi yang akhirnya mendorong masyarakat menjadi konsumen, bukan produsen.

    “Kita memerlukan sumber daya manusia agar segala yang menjadi potensi devisa negara tidak kabur ke luar negeri. Dan tanpa membaca kita tidak bisa apa-apa,” tambah Kepala Perpusnas.
    Oleh karena itu, Kepala Perpusnas juga mengimbau agar peserta didik tidak di beri buku pelajaran kurikulum terus, tapi berikan mereka buku-buku pengayaan pengetahuan. Itulah esensi dari merdeka belajar.

    Baca Juga: Tingkatkan Literasi, Pemerintah Beri Dukungan Penyelenggaraan Perpustakaan

    Sekretaris Utama Perpusnas Ofy Sofiana dalam kesempatan talk show Peningkatan Indeks Literasi Nasional (PILM) menjelaskan tentu akan lebih mudah membentuk literasi jika sudah memiliki kebiasaan membaca. Karena ketika literasi rendah yang terjadi malah masalah lain, seperti angka kriminal naik atau kualitas kesehatan yang menurun.

    Pengembangan Budaya Baca

    Maka itu, pembudayaan kegemaran membaca sebagai bagian integral dari pembangunan literasi mengamanatkan trilogi pengembangan budaya baca yang memulai dari sektor keluarga, pendidikan, dan masyarakat.

    “Semua harus berkesinambungan satu sama lain. Di keluarga terjadi proses penumbuhan. Di sektor pendidikan terjadi proses pembiasaan, dan di masyarakat harus terjadi proses pembudayaan.

    “Contohnya, pada masa golden age anak di usia 0-5 tahun, sudah bisa menularkan kebiasaan membaca,” jelas Ofy Sofiana.

    Anak adalah peniru ulung. Dan perkembangan otak di usia emas 0-5 tahun harus maksimal karena itu merupakan masa strategis mengajarkan mereka perbendaharaan kosa kata yang banyak. Di masa golden otak balita lebih aktif dari orang dewasa, urai Ofy.

    Sementara itu, narasumber lain Ketua DPRD Dadang R. Kalyubi menyoroti manfaat besar dari inklusi sosial. Inklusi sosial menurut Dadang adalah gerakan tanpa batas. Memuji Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS) karena membantu pemerataan informasi dan penguatan kemandirian melalui literasi.

    “Program TPBIS secara sederhana berarti sebagai kumpulan aktivitas meningkatkan kualitas kesejahteraan hidup masyarakat,” ujar Dadang.

    Pembangunan sumber daya manusia di Kota Banjar akan berkembang jika mau mencontoh seperti negara Singapura. Meski tidak punya kekayaan alam tetapi mampu menghasilkan devisa yang besar karena ditopang dengan kualitas manusianya.

    “Di zaman global bukan soal siapa yang besar dan kuat, melainkan siapa yang bisa beradaptasi dengan perubahan yang ada,” pungkas penulis Jee Lovina.

    (Erwin)

    Berita Terbaru

    spot_img