spot_img
Kamis 2 Desember 2021
spot_img
spot_img

Ekspor Jabar Triwulan III/2021 Tertinggi Pasca PPKM

BANDUNG,FOKUSJabar.id: kinerja ekspor non migas Jawa Barat terus bergerak naik pasca pemberlakuan PPKM Darurat dan kenaikan kasus Covid-19.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat (Jabar) Moh Arifin Soedjayana mengatakan, nilai ekspor non migas di bulan September 2021 mengalami  peningkatan 2.07 persen dari bulan Agustus 2021.

jabar
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat (Jabar) Moh Arifin Soedjayana

“Telah terjadi peningkatan sedikit demi sedikit dari Juli 2021 sampai September 2021, pasca puncak pandemi Covid 19 dan masa PPKM darurat diberlakukan di Jawa Barat,” kata Arifin, Kamis (4/11/2021).

Secara kumulatif Neraca Perdagangan Non Migas Jabar pada triwulan III atau Januari-September 2021 surplus mencapai USD 16.54 Milyar.

BACA JUGA: Disparbud Bakal Tawarkan Investasi Pariwisata Jabar di Dubai Expo 2020

Arifin mencatat Jabar berhasil menyumbang 15.02% dari total ekspor nasional pada triwulan III/2021 dari total ekspor nasional USD 164.287 Milyar. Angka ini menurutnya menjadikan Jabar menjadi provinsi nomer satu penyumbang ekspor terbesar disusul Jawa Timur dengan nilai ekspor USD 16.93 milyar atau 10.31 persen, dan Kalimantan Timur dengan nilai USD 16.11 miliar.

“Dengan angka ini target capaian indikator pertumbuhan nilai ekspor non migas Jabar sebesar USD 10.14 Milyar, sudah tercapai USD 8.75 Milyar selama periode Januari-September 2021 atau 86.29% dari target tahun 2021,” kata dia.

Peningkatan nilai ekspor terbesar pada September 2021 terjadi pada golongan Mesin & Mekanis sebesar USD 63.98 juta (29.64 persen), diikuti oleh Kendaraan & bagian sebesar USD 40.05 juta (11.37 persen).

“Secara kumulatif ekspor golongan barang utama Januari–September 2021 menunjukkan penguatan dibanding Tahun 2020. Namun ekspor Pakaian Jadi non Rajut menurun dibanding tahun lalu, sebesar 3,81 persen,” katanya.

Kemudian, pangsa pasar terbesar ekspor non migas  Jabar pada September 2021 adalah Amerika Serikat, yaitu USD 624.88 juta, disusul Jepang USD 267.39 juta, dan Tiongkok USD 196 juta. Peningkatan ekspor Jabar terbesar dialami oleh Vietnam sebesar USD 27,08 juta (27,92 persen), disusul Malaysia sebesar USD 17,55 juta (22,82 persen) dan Korea Selatan sebesar USD 17,00 juta (12,05 persen).

“Secara kumulatif ekspor non migas ke negara tujuan utama pada 2021 menguat dibanding 2020, namun ekspor ke Singapura mengalami penurunan dibanding tahun lalu, sebesar 7.08 persen,” Ujar Arifin.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat Rinny Cempaka mengatakan persentase pelaku usaha di Jabar yang mendapatkan pelayanan urusan perdagangan di Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) mencapai 100 persen pada September 2021.

“Ada 142 pelaku usaha yang dilayani di IPSKA Provinsi Jawa Barat pada September 2021. Secara kumulatif sudah 1230 pelaku usaha yang dilayani dari Januari-September 2021,” kata Riny.

Dari 13 IPSKA di Jabar, IPSKA Kabupaten Bogor tercatat sebagai penerbit surat keterangan asal (SKA) terbesar di September 2021, dimana mengalami peningkatan jumlah form yang terbit sebesar 5.94 persen dibandingkan bulan sebelumnya.

Disusul IPSKA Kabupaten Bekasi yang merupakan penerbit terbanyak kedua mengalami penurunan penerbitan form SKA 0.03% secara Month to Month.

“Namun seluruh IPSKA di Jawa Barat pada September 2021 mengalami penurunan penerbitan form dibandingkan Agustus 2021 kecuali Kab. Bogor, Kab. dan Kota Sukabumi, Kab. dan Kota Cirebon,” kata dia.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil (Emil) dan Wagub Uu Ruzhanul Ulum pun beberapa kali melakukan pelepasan ekspor produk non migas Jabar sepanjang 2021 ini antara lain ke Kosta Rika, Jepang, Denmark, Belanda, Uni Emirat Arab, hingga Singapura. Adapun produk yang dilepas ekspor antara lain serbuk kelapa, kerajinan rotan, kopi, buah-buahan, hingga tekstil.

“Kami juga mengikutsertakan produk-produk unggulan Jabar di Trade Expo Indonesia-Digital Edition 2021, dan Dubai Expo 2020. Selain itu produk ekspor Jabar rutin kami fasilitasi lewat business matching dan business meeting mulai dengan pengusaha Tunisia, Yunani, Senegal, Tiongkok, Jepang hingga Malaysia,” pungkasnya.

Sekretaris Komisi II DPRD Jabar Yunandar Eka Perwira mengatakan pertumbuhan kinerja ekspor Jabar menjadi modal penting bagi pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19. Menurutnya pertumbuhan ekspor bisa menjadi momentum untuk meningkatkan ekspor dari para pelaku usaha di Jabar.

BACA JUGA: BSN Bersama Pemprov Jabar Genjot SNI Pelaku Usaha

“[Pertumbuhan] Ini kita jadikan modal untuk kedepannya agar roda perekonomian berputar lebih baik lagi,” tuturnya.

Sebelumnya, Emil mengatakan ekspor Jabar semakin membaik karena mitra dagang masih memberikan kepercayaan. Demikian pula dengan naiknya investasi di Jabar meski masih dalam situasi pandemi Covid-19.

“Lobi dagang terus dilakukan, membuka pasar luar negeri yang saat ini mulai membaik membuat ekspor non migas Jabar yang didominasi produk industri tumbuh tinggi,” kata dia.

(Agung)

Artikel Lainnya

spot_img
spot_img