spot_img
Jumat 30 Januari 2026
spot_img

Apriyani Rahayu Ungkap 1 Rahasia Cium Tangan Greysia Polii Saat Bertanding

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Atlet ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu bersama Greysia Polii sukses membawa medali emas sekaligus mencetak sejarah di Olimpiade Tokyo 2020 setelah menumbangkan pasangan Cina, Chen Qing Chen/Jia Yifan dua gim langsung 21-19, 21-15.

Kemenangan itu jadi puncak permainan apik dari pasangan beda generasi tersebut. Bagaimana tidak, usia Greysia-Apriyani terpaut 10 tahun.  Greysia Polii berusia 33 tahun ementara Apriyani Rahayu baru 23 tahun.

Selain itu, pasangan ganda putri nomor enam dunia itu pun menarik perhatian karena aksi yang ditampilkan saat bertanding. Apriyani Rahayu kerap mencium tangan Greysia Polii dan momen tersebut beberapa kali tertangkap kamera.

BACA JUGA: 3 Alasan Greysia Polii Berencana Gantung Raket

Menurut Apriyani Rahayu, mencium tangan pasangannya sebagai sebuah kebiasaan wujud hormat sang junior kepada senior.

“Itu refleks kebiasaan saya mencium tangan kepada orang yang lebih tua. Itu bentuk rasa hormat junior terhadap senior,” kata Apriyani Rahayu seperti dikutip CNNIndonesia, Sabtu (7/8/2021).

Jika menoleh Prancis Terbuka Super Series 2017,  Apriyani juga pernah mencium tangan wasit setelah dipastikan menjadi juara.

“Soal cium tangan wasit, tidak ada rahasia. Itu bentuk rasa hormat terhadap orang yang lebih tua. Terlebih sebagai orang Indonesia, kan hal semacam itu sudah biasa dan jadi budaya. Siapapun mereka, mau wasit atau bukan kalau dia lebih tua ya saya akan cium tangan,” kata Apriyani.

Pemandangan Apriyani mencium tangan Greysia Polii merupakan salah satu bukti pasangan peraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020 ini mempunyai chemistry yang sangat kuat dan jadi salah satu kunci suksesnya. 

Tak hanya itu, Apriyani Rahayu juga tidak segan untuk memberikan motivasi kepada seniornya Greysia Polii, saling memberi semangat dengan saling berteriak saat mencetak poin atau bertukar senyuman ketika kehilangan poin.

“Kak (Greysia), Saya tidak semakin muda. Jadi Kakak harus benar-benar mulai berlari bersamaku, jangan berjalan,” kata Apriyani Rahayu.

“Saya benar-benar ingin berterima kasih kepada Tuhan dan Kakak (Greysia). Saya benar-benar berusaha maksimal untuk sampai di final dan juara Olimpiade Tokyo 2020,” kata Apriyani menambahkan.

Menurut Apriyani, ketenangan bertanding menghadapi para unggulan membuat bisa tampil luar biasa.

Greysia/Apriyani datang ke pertandingan Olimpiade Tokyo 2020 bukan sebagai unggulan. Terlebih rekor pertemuan dengan Chen/Jia cukup buruk dan diprediksi akan sangat kesulitan menghadapi pasangan Cina di babak final.

Namun, Greysia/Apriyani bisa membalikkan semua prediksi. Keduanya tampil dominan sehingga mampu menyelesaikan pertandingan itu dalam dua gim langsung.

Dengan demikian, Greysia/Apriyani menjadi satu-satunya atlet Indonesia yang meraih emas di Olimpiade Tokyo 2020. Secara keseluruhan, Indonesia mengumpulkan lima medali di Olimpiade Tokyo 2020 yang terdiri dari satu emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Terkait bonus setelah meraih medali emas Olimpiade Tokyo 2020, Apriyani belum memikirkan rencana apapun. Dia memastikan, bonus yang didapatnya akan digunakan untuk masa depannya.

Sayangnya, Indonesia harus kehilangan atletnya setelah Greysia Polii menyatakan berncana gantung raket. Jika itu terjadi, tim pelatih harus memutar otak mencari pasangan tepat untuk Apriyani Rahayu.

Sebelumnya FOKUSJabar mengabarkan, sebagai atlet wanita, Greysia Polii mengaku ada rencana gantung raket karena terbentur usia dan sudah menikah.

“Ada rencana akan gantung raket karena sebagai seorang atlet wanita tidak seperti atlet pria. Saat perjalanan hidup ketika menikah dan ingin punya anak, bagi atlet pria itu tidak menjadi kendala,” kata Greys.

“Saya sudah menikah dan punya dua prioritas. Sekarang tinggal tunggu waktu yang tepat kapan pensiun dari Bulu Tangkis,” ungkap Greys menambahkan.

Sebelum pecahkan rekor, Greys mengaku perjalanan kariernya mendapat cobaan berat saat didiskualifikasi dari Olimpiade London 2012 bersama Meiliana Jauhari karena dugaan sengaja mengalah dari lawan.

Momen tersebut tentunya tak mudah untuk dilupakan. Karenanya, Greys pun sempat berpikir untuk gantung raket, meski saat itu usianya baru menginjak 25 tahun.

“Waktu umur 25 tahun, saya tahu masih punya kemampuan, tapi seperti hilang asa dan sudah tidak semangat karena kejadian yang begitu besar menimpa saya waktu itu. Jadi saya ingin menyatakan pensiun,” kata Dia.

Setelah bangkit dan berjuang di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, Greysia kembali mengalami kendala. Di mana saat itu pasangan mainnya, Nitya Krishinda Maheswari mengalami cedera lutut dan harus menjalani operasi.

“Karena Nitya cedera, Saya pun sudah ada ancang-ancang pension dan berencana menikah. Namun ternyata Tuhan berkata lain, ada Apriyani dan pelatih minta tolong menunggu enam bulan sampai satu tahun untuk mengangkat para junior di ganda putri yang masih sangat sulit berprestasi,” kata Greys.

Ingin berkontribusi untuk kemajuan para juniornya, Greys akhirnya menyetujui permintaan pelatih, Eng Hian. Terlebih, kala itu masih terikat kontrak dengan sponsor.

Dalam menjalani tugas dan kariernya, Dia merasa nothing to lose. Bagaimana tidak, Greys sadar betul tak mudah untuk bersaing pada usia yang tak lagi muda.

(Bambang Fouristian/berbagai sumber)

spot_img

Berita Terbaru