spot_img
Selasa 3 Agustus 2021
spot_img
spot_img

6 Alasan Burung Hantu Tak Dipelihara

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Burung Hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo Strigiformes yang termasuk hewan pemakan daging (karnivora) dan merupakan hewan malam (nokturnal).

Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui menyebar di seluruh dunia. Kecuali Antarktika, sebagian besar Greenland dan beberapa pulau-pulau terpencil.

Di dunia barat, hewan ini dianggap simbol kebijaksanaan, tetapi di beberapa tempat di Indonesia dianggap pembawa pratanda maut, maka disebut Burung Hantu.

Meski begitu, tidak di semua tempat (Indonesia) disebut sebagai Burung Hantu. Di Jawa misalnya, disebut darès atau manuk darès yang tidak ada konotasinya dengan maut atau hantu. Di Sulawesi Utara dikenal dengan Manguni.

BACA JUGA: 5 Mitos Burung Perkutut

Burung ini dikenal karena matanya besar dan menghadap ke depan bersama paruh yang bengkok tajam seperti paruh Elang serta susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah.

burung hantu fokusjabar.id
Ilustrasi (foto web)

Tampilan “wajah” hewan ini mengesankan dan kadang-kadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang.

Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih. Dipadukan dengan perilakunya yang kerap mematung dan tidak banyak bergerak, menjadikan burung ini tidak mudah kelihatan. Begitu pun ketika tidur di siang hari di bawah lindungan dedaunan.

Ekor burung ini pada umumnya pendek, namun sayapnya besar dan lebar. Rentang sayapnya mencapai sekitar tiga kali panjang tubuhnya.

Kebanyakan jenis burung ini berburu di malam hari, meski sebagiannya berburu ketika hari remang-remang di waktu subuh dan sore (krepuskular) dan ada pula beberapa yang berburu di siang hari.

Mata yang menghadap ke depan, sehingga memungkinkan mengukur jarak dengan tepat. Paruh yang kuat dan tajam, kaki yang cekatan dan mampu mencengkeram dengan kuat serta kemampuan terbang tanpa berisik, merupakan modal dasar bagi kemampuan berburu dalam gelapnya malam.

Beberapa jenis bahkan dapat memperkirakan jarak dan posisi mangsa dalam kegelapan total, hanya berdasarkan indra pendengaran dibantu oleh bulu-bulu wajahnya untuk mengarahkan suara. Burung ini berburu serangga, kodok, tikus dan lain-lain.

Burung ini bersarang di lubang-lubang pohon atau di antara pelepah daun bangsa palem. Beberapa jenis juga kerap memanfaatkan ruang-ruang pada bangunan, seperti di bawah atap atau lubang-lubang yang kosong. Bergantung pada jenisnya, bertelur antara satu hingga empat butir, kebanyakan berwarna putih atau putih berbercak.

burung hantu fokusjabar.id
Ilustrasi (foto web)

Binatang ini merupakan salah satu jenis burung yang kerap digunakan sebagai hewan pembasmi hama tikus.

Burung hantu lebih efektif dibandingkan pengendalian tikus menggunakan racun tikus, gropyokan (perburuan tikus melibatkan banyak orang secara bersama-sama dan serempak) dan lain-lain.

Sebagai predator alam, burung hantu jenis Serak Jawa merupakan pemburu tikus yang paling populer dan andal. Baik di perkebunan Kelapa sawit maupun di pertanian padi.

Dalam pertanian, sepasang burung bisa melindungi 25 hektare tanaman padi. Dalam waktu satu tahun, satu ekor burung dapat memangsa 1.300 ekor tikus.

burung hantu fokusjabar.id
Ilustrasi (foto web)

Burung ini juga merupakan predator tikus yang efektif karena bisa menurunkan serangan tikus pada tanaman kelapa sawit muda hingga di bawah 5 persen.

Dari segi biaya, pengendalian serangan tikus menggunakan burung hantu lebih rendah 50 persen dibandingkan penanggulangan tikus secara kimiawi.

Meski kita sangat ingin memeliharanya, ternyata tidak bisa sembarangan. Berikut alasannya:

  1. Burung Hantu perlu ruangan besar

Hewan ini bukan binatang peliharaan yang mudah bagi pemula. Yang harus diketahui, perlu ruangan yang luas dan tidak bisa dikurung di dalam sangkar.

Anda bisa memeliharanya di dalam rumah dan memberikan akses ke bak mandi yang harus selalu bersih. Karena burung ini perlu membersihkan bulunya secara rutin. Apabila bulunya kotor, saat terbang, sayapnya akan mengeluarkan suara.

Di alam liar, burung ini terbang diam-diam tanpa suara supaya mangsanya tidak menyadari kehadirannya. Selain itu, mereka perlu sering-sering terbang, jangan mengikat kakinya terus-menerus.

  1. Burung Hantu makan daging

Berbeda dengan burung hias, burung hantu tidak bisa diberi makan biji-bijian, pelet atau sayur dan buah segar karena merupakan hewan karnivora. Di alam liar, mereka akan berburu untuk memperoleh makanan. Mereka biasa memakan tikus, kelinci kecil, ayam kecil hingga marmut.

Anda bisa memberi pakan dalam kondisi hidup atau mati. Selain itu, juga bisa memberinya daging sapi atau ayam mentah.

Tapi, opsi ini tidak untuk jangka panjang, karena burung hantu lebih suka memakan hewan dalam kondisi utuh. Tidak disarankan untuk memberinya cacing, serangga atau siput.

  1. Hewan Independen

berburu sendiri, atau bersama dengan pasangan dan anaknya. Sifatnya ini membuat burung hantu kerap menyerang orang lain (selain pemiliknya) karena dianggap sebagai ancaman.

Burung hantu terikat secara emosional dengan pemiliknya, apalagi jika dirawat dengan baik. Itulah mengapa, saat kita jatuh sakit dan tidak bisa merawatnya, mereka akan menjadi stres dan depresi.

Burung hantu akan semakin stres apabila mereka dipindah ke pemilik lain karena mereka menganggap pemiliknya sebagai keluarga.

  1. Menuntut banyak perhatian dari pemiliknya

Meski tampangnya terlihat imut dan menggemaskan, burung ini merupakan attention seeker. Mereka membutuhkan dan menuntut banyak perhatian dari pemiliknya.

Burung hantu akan memekik keras agar diperhatikan dan dituruti kemauannya. Mereka akan stres apabila diabaikan.

Hal ini akan menjadi masalah apabila anda tinggal di lingkungan padat penduduk. Suaranya yang keras akan mengganggu kenyamanan tetangga.

Burung ini akan lebih berisik saat musim kawin tiba. Bahkan, mereka akan melakukannya di siang atau malam. Itulah mengapa burung hantu tidak terlalu cocok dijadikan hewan peliharaan.

  1. Bulunya sering rontok

Bulu cantiknya akan rontok dan berganti baru setiap tahun. Mereka juga sering memuntahkan pelet, yakni makanan yang tidak tercerna, seperti tulang, bulu, cakar dan gigi.

Bulu dan pelet harus segera dibuang dan dibersihkan, karena tidak baik bagi kesehatan burung hantu.

Proses pergantian bulu memakan waktu hingga 3 bulan. Jangan lupa untuk membersihkan kotorannya. Saat buang air besar, burung ini akan membersihkan Ceca yang terletak di ujung usus setiap harinya. Baunya cukup menyengat dan konsistensinya berbentuk semi-padat.

  1. Butuh izin khusus

Memelihara burung hantu tidak bisa sembarangan. Di Amerika Serikat, burung hantu tergolong sebagai hewan liar dan calon pemilik harus dilatih dahulu sebelum mendapat lisensi untuk memelihara.

Berdasarkan aturan dari US Fish and Wildlife Service, jika kita gagal atau melanggar aturan, burung hantu itu akan diambil dan ditaruh di penangkaran.

Izin memelihara di Amerika Serikat sangat ketat dan hanya diberikan pada orang yang bertujuan untuk menangkarkan burung atau menjadikannya sebagai program pendidikan.

Di Indonesia, burung hantu tidak seharusnya dipelihara karena termasuk hewan liar, meski masih banyak ditemukan di pasar hewan.

(Bambang Fouristian/berbagai sumber)

Artikel Lainnya

spot_img