spot_img
Minggu 9 Mei 2021
spot_img
spot_img

Pemkot Bandung Siapakan Skenario Antisipasi Dampak Cuaca Ekstrem

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung siapkan skenario mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang sedang berlangsung untuk beberapa hari ke depan. Salah satu diantaranya mengecek kondisi sungai-sungai agar tidak menyebabkan banjir.

Wali Kota Bandung, Oded M Danial mengaku sudah melakukan rapat dengan dinas terkait untuk mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang baru-baru ini melanda wilayahnya. 

“Kita paling tidak mempersiapkan di Kota Bandung beberapa aspek tentang fasilitas sungai dan sebagainya harus diperhatikan, khawatir kita,” kata Oded di PMI Jalan Aceh Jabar, Jumat (16/4/2021).

Pihaknya mengaku sudah memperkirakan dampak cuaca ekstrem salah satunya banjir. Oleh karena itu, pihaknya sudah menyiapkan skenario mengantisipasi dampak cuaca ekstrem yang masih terjadi.

BACA JUGA: Stok Darah di PMI Kota Bandung Kosong

“Macam-macam kejadiannya (dampak), sudah disiapkan insya Allah dinas terkait sudah rapat dengan asisten dan sedang dikoordinasikan,” kata Oded.

Sementara itu, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kota Bandung, Teguh Rahayu mengatakan, potensi cuaca ekstrem selama periode transisi atau pancaroba di wilayah Bandung Raya secara empiris mengalami peningkatan. Cuaca ekstrem yang dimaksud berupa hujan lebat, bisa juga berupa hujan es yang disertai petir atau kilat dan angin kencang atau dapat berupa kejadian angin puting beliung.

“Salah satu faktor penyebabnya adalah kelembapan yang masih cenderung tinggi yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan-awan hujan dan mendorong proses konveksi kuat yang dapat menyebabkan terbentuknya awan Cumulonimbus dengan jenis supercell, sehingga hal itu memicu terbentuknya hujan es atau hail yang disertai angin kencang” jelasnya saat di hubungi melalui sambungan telpon Jumat (16/4/2021).

Teguh menjelaskan, penyebab utama hujan lebat dan angin kencang ini adalah suatu fenomena yang dinamakan microburst atau downburst, yaitu kejadian angin kencang yang disebabkan downdraft dari awan Cb supercell dengan puncak awan mencapai -100 derajat celcius berdasarkan pengamatan satelit.

“Pertumbuhan tipe awan ini disebabkan kelembapan relatif (RH) yang tinggi, data model menunjukan RH 70% – 100% dan adanya thermal contrast atau perbedaan temperatur mencolok antara temperatur maksimum dan minimum” katanya.

(Yusuf Mugni/Anthika Asmara)

Artikel Lainnya

spot_img