BANDUNG,FOKUSJabar.id: Ketua Panitia Harlah ke-73 Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Yenny Wahid menyatakan, peringatan hari lahir yang dihadiri 100 ribu lebih ibu-ibu Muslimat di Gelora Bung Karno lalu menjadi momentum bagi NU dan Muslimat untuk bangkit membela bangsa.
NU dan Muslimat harus menunjukkan mayoritas umat Islam di Indonesia toleran dan moderat.
“Sudah saatnya NU dan termasuk Muslimat bangkit membela bangsa dan melakukan perlawanan. Saya bilang, The Silent Majority is Now Declare as The Noisy Majority. Mayoritas yang diam sekarang telah menjadi mayoritas yang bersuara. Itu sikap keluarga besar NU melihat kondisi kebangsaan hari ini, ” kata Yenni melalui rilianya, Selasa (29/1/2019).
BACA JUGA:
Soal DPIB, Ini Kata Humas SMKN 1 Kalipucang Pangandaran
Peringatan Harlah Muslimat NU di GBK lalu pun dihadiri Presiden Jokowi dan isteri, Ketum PBNU Said Agil Siradj, Ketum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa, serta para sesepuh NU dan beberapa menteri Kabinet Kerja.
Dia tidak menampik jika ada yang menyebut peringatan Harlah Muslimat itu sebagai manuver politik. Yenni menegaskan bahwa politisnya lebih kepada tataran kebangsaan bukan politik praktis.
“Kita ingin menguatkan Aswaja (ahli sunnah waljamaah) karena bisa menjawab tantangan-tantangan yang dihadapai komunitas Islam di Indonesia, bahkan di dunia. Sebab di dalam Aswaja terkandung nilai-nilai toleran, moderat, seimbang dan adil,” tegas dia.
Lebih lanjut Yenni mengungkapkan, ada dua tujuan utama digelarnya harlah di Jakarta. Pertama, Muslimat melihat ada suasana tegang di tengah masyarakat menjelang Pilpres 2019.
“Kita mengajak ibu-ibu Muslimat untuk meredakan ketegangan tersebut dengan cara memanjatkan doa bagi keselamatan bangsa,” ungkap dia.
Kedua, Muslimat dan NU ingin menunjukkan bahwa mayoritas umat Islam di Indonesia merupakan umat yang toleran dan moderat.
Intinya Harlah Muslimat kali ini untuk menunjukkan kepada masyarakat agar tidak ragu tentang identitas umat Islam di Indonesia.
“Sesungguhnya umat Islam di Indonesia itu umat yang toleran dan cinta damai,” kata Yenni.
Sebagai salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia, NU selama ini lebih memilih diam di saat bertebRan hoaks, ujaran kebencian, bahkan fitnah.
“Sekarang tidak boleh lagi diam. Kami juga ingin bersuara. Sebab kami memiliki ideologi yang jelas, sikap kami juga jelas dalam hal membela negara. Demikian juga kecintaan kami kepada Tanah Air juga jelal terartikulasi dengan militansi ibu-ibu Muslimat yang datang ke GBK beberapa waktu lalu.
Yenni meyakini bahwa keberadaan NU tetap menjadi faktor, sehingga Indonesia tetap aman. Para kyai dan ulama NU terus berikhtiar agar masyarakat tetap tenang dan tak mudah termakan hoaks atau ujaran kebencian.
“Kalau tidak ada NU dengan semua banonnya (badan otonom), bisa jadi konflik sudah pecah,” tutur dia.
(LIN)


