spot_img
Kamis 15 April 2021
spot_img
spot_img

Pemkot Bandung akan Terapkan Sensor Deteksi Cuaca di 50 Kelurahan

BANDUNG, FOKUSJabar.id: Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung bekerjasama dengan Cyberindo Aditama (CBN) untuk memasang sensor cuaca di 50 kelurahan di Kota Bandung.

Dengan alat deteksi cuaca tersebut, bisa mengetahui peluang terjadinya hujan yang dapat menyebabkan banjir.

Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana mengapresiasi kerja sama tersebut. Terlebih, kata dia, penerapan teknologi itu bisa membantu masyarakat memperoleh informasi tentang cuaca di Kota Bandung.

“Inovasi yang telah dibuat bisa diterapkan dan terkoneksi di Kota Bandung sesuai kebutuhan,” kata Yana saat menerima perwakilan CBN di Balai Kota Bandung, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Jumat (25/1/2019).

Sebagai smart city, Kota Bandung perlu terus meningkatkan inovasi melalui kolaborasi. Semua harus terkoneksi demi melayani masyarakat.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Bandung Ahyani Raksanagara mengatakan, Pemkot Bandung dan CBN telah bekerjasama memasang sensor untuk mendeteksi cuaca.

“Tahun lalu kita jajakan kerja sama dengan memasang sensor cuaca di 50 kelurahan,” ungkap Ahyani.

Sensor yang terpasang, kata dia, berbeda dengan yang dimiliki Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), yang mana sensor dari CBN ini langsung ditempatkan di kelurahan, atau tidak melalui satelit seperti BMKG.

“Prediksinya, semakin banyak maka sensor akan semakin baik, kita bisa mengomparasi. Dan masyarakat secara terbuka bisa mengetahuinya,” tutur Ahyani.

Sedangkan Chief Operating Officer Cyberindo Aditama (CBN) Marcelus Ardiwinata menegaskan bahwa pihaknya siap berkolaborasi dan membantu Kota Bandung di sisi lingkungan, khususnya cuaca.

“Pemkot Bandung memiliki layanan Smart City. Kami bergerak untuk memberikan layanan cuaca,” kata Marcel.

Selain itu, melalui sensor tersebut, suhu, arah angin, sensor ultraviolet hingga vioket radiation bisa dipantau. Sensor ini akan mengirim data per 30 detik yang masuk ke cloud.

Data mentah yang terkumpul, terbuka dan bisa digunakan oleh kelurahan, BPBD dan BMKG.

“Siapapun boleh menggunakan data ini. Namun khusus untuk Kota Bandung, saya menginginkan model yang kami kembangkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain,” kata dia.

Lebih lanjut Marcelus mengatakan bahwa dalam konsep smart city harus melibatkan publik untuk terus berkembang.

(Yusuf Mugni/LIN)

Artikel Lainnya

spot_img