FILIPINA, FOKUSJabar.id: Sejumlah aktivis geram setelah Presiden Filipina, Rodrigo Duterte mengatakan ia pernah menggerayangi pembantunya saat ia masih remaja.
Dalam pidatonya, Duterte mengatakan pernah melakukan pengakuan dosa kepada pastor saat ia menggerayangi pembantu yang tengah tidur.
BACA JUGA:
Kadin Garut Rekrut Aktivis Antikorupsi, Pastikan Iklim Usaha Bersih dan Transparan
Organisasi hak perempuan, Gabriela, mengatakan “Duterte tak pantas berada di posisinya dan harus mundur.”
Presiden Filipina itu telah sering memicu kemarahan besar karena komentar yang provokatif namun tetap popular.
Dalam pernyataan kontroversial terbaru ini ia menggambarkan bagaimana ia masuk ke kamar pembantunya.
“Saya buka selimut…saya coba raba apa yang ada di dalam celana,” kata Dutarte, seperti di lansir Detik, Selasa (01/01/2019).
“Saya raba. Dia bangun dan saya keluar kamar,” Tambahnya.
Gabriela yang merupakan anggota partai politik yang mewakili hak perempuan mengatakan, pernyataan itu sama saja dengan mengakui pemerkosaan.
“Pemerkosaan tidak hanya mencakup penis…bila menggunakan jari atau barang juga di anggap memperkosa,” kata Gabriela.
Direktur Koalisi Anti Perdagangan Perempuan Asia Pasifik, Jean Enriquez, memperingatkan komentar presiden itu menyebabkan nasib pembantu rumah tangga semakin berisiko.
“Mengangkat pelecehan dapat mendorong kultur pemerkosaan dan dalam kasus ini pelecehan seksual terhadap pekerja rumah tangga,” kata Enriquez.
Duterte sebelumnya sering di kecam karena komentar tentang perempuan. Ia juga di kritik tajam karena mencium bibir seorang pekerja dalam acara yang di rekam langsung televisi.
Ia juga pernah mengatakan kepada tentara Filipina untuk menembak pemberontak komunis perempuan di bagian vagina.
(Agung)



