BANDUNG, FOKUSJabar.id: Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Purwakarta Dedi Mulyadi meminta sistem pembinaan olahraga di Indonesia dirombak. Terlebih kaitannya dengan pembinaan.
Dedi mencontohkan, pada hajat Pekan Olah Raga Daerah (Porda) ataupun multi event lainnya banyak daerah yang mengejar prestasi secara instan. Salah satu caranya dengan membeli atlet binaan daerah lain.
“Berpindah-pindah atlet dari satu daerah ke daerah lain ini nggak baik. Sportivitas nggak ada, dan biaya mahal, juga menyerap APBD cukup besar,” kata Dedi saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) KONI Jabar, di Hotel Grand Aquila, Jalan Dr Djundjunan, Kota Bandung, Rabu (5/9/2018).
Idelanya, kata dia, setiap daerah fokus meningkatkan spesialis cabang olahraga (cabor) yang berpotensi di daerah tersebut. Dengan demikian, pembinaan akan tepat sasarasi.
Menurut dia, potensi prestasi cabor sesuai dengan iklim di daerah itu sendiri. Sebut saja bulu tangkis di Kudus, Bandung dengan renangnya, dan Purwakarta angkat besi.
Nantinya, kata dia, setiap daerah akan memiliki pusat olah raga unggulan, seperti kolam renang dan lapangan sepak bola yang baik.
“Lebih efisien. Coba hitung setiap Porda keluarkan (dana) berapa? Tapi tidak dapat medali. Jangan hidup dari olahraga, tapi hidupi olahraga. Kalau warga Bandung punya potensi renang, tinggal kirim ke Kudus untuk berlatih di sana, ” paparnya.
Dedi menyebut bahwa pembinaan secara profesional harus terus didorong, agar ke depan prestasi olah raga di Jabar semakin kinclong. Termasuk soal sinergitas dengan sistem pendididikan.
(LIN)


