spot_img
Kamis 25 Juli 2024
spot_img
More

    Tak Mau Bohong Jadi Alasan Demiz Tak Jawab Pertanyaan di Debat Publik Lalu

    BANDUNG, FOKUSJabar.id: Menghindari berbohong dan tidak ingin bersikap seperti ‘Dewa’, pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar nomor urut 4 Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi memilih tidak menjawab salah satu pertanyaan dalam debat publik Pilgub Senin (12/3) lalu di Sabuga.

    Pasangan Deddy-Dedi mengaku tidak bisa menjawab solusi pekerja yang ‘terancam’ perkembangan industri yang tersentuh digitalisasi.

    Pasangan yang diusung Demokrat dan Golkar itu justru memberikan gimmick dengan respon tak ingin menjawab, meski tetap memberikan solusi untuk isu tersebut.

    Deddy menjelaskan bahwa hal itu sebagai sinyal kepada masyarakat bahwa seorang gubernur tidak bisa menjawab semua persoalan yang ada.

    Artinya, seorang gubernur tidak bisa bekerja sendiri. Dengan kata lain dalam sebuah pemerintahan harus ada kerjasana yang baik dari ahli, akademisi dan kelompok masyarakat.

    “Kalau saya jawab sesuatu yang sebetulnya saya tidak tahu, itu kebobongan namanya.kita ini manusia, bukan dewa. Jangan menduga-duga penyelesaian sebuah masalah, bahaya itu,” jelas Deddy.

    Dia pun mengajak semua pihak untuk rendah hati dan mengakui bahwa tidak ada superioritas dalam menangani permasalahan di setiap daerah.

    Deddy pun tidak khawatir yang ditunjukkannya dalam debat itu akan berpengaruh buruk ke dalam persepsi masyarakat.

    “Kalau saya sih enjoy,” kata dia.

    Begitupun dengan Cawagub Dedi Mulyadi yang mengaku santai dengan sikap Deddy Mizwar. Terlebih menurut Dedi hal itu adalah kejujuran dari seorang pemimpin.

    “Itu kejujuran. Tapi kan akhirnya dijawab juga. Kami menjelaskan tentang standarisasi, tentang ahli teknologi. Kalau saat ini dunia sudah melakukan revolusi digital, kita harus melakukan hal yang sama,” ucapnya.

    Masalah nasib masyarakat yang dinilai ‘terancam’ dengan keberadaan teknologi itu bisa diselesaikan dengan tetap mendorong masyarakat bekerja, namun jangan terfokus pada revolusi digital dan seluruh industri yang berproduk digital.

    “Kita lawan dengan bijak, yaitu mendorong masyarakat dengan pendekatan berbasis UMKM,” kata pencipta lagu ‘Kaasih Indung’ itu.

    Dia pun optimistis acara debat publik pertama itu tetap menguatkan pendukung dan bisa menambah suara saat pemilihan 27 Juni nanti.

    ” Tidak khawatir. Kan masih ada rangkaian perdebatan lain, ” jelas dia.

    (LIN)

    Berita Terbaru

    spot_img