spot_img
Sabtu 1 Oktober 2022
spot_img
More

    13 Kecamatan di Kota Bandung Beresiko Banjir

    BANDUNG,FOKUSJabar.id: Memasuki periode transisi musim penghujan pada September ini, masyarakat Kota Bandung diimbau waspada terhadap bencana alam yang bisa terjadi sewaktu-waktu. Salah satunya banjir.

    Hal itu diungkapkan Kepala Seksi (Kasi) Mitigasi Bencana Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) Kota Bandung, Amires Pahala pada program Bandung Menjawab, Rabu (21/9/2022).

    “Ada 13 kecamatan yang beresiko banjir. Di beberapa titik di kecamatan itu berisiko tinggi akan bencana,” kata Amires di Taman Sejarah Kota Bandung, Jabar, Rabu (21/9/2022).

    BACA JUGA: Sekda Kota Bandung: Lawan Aksi Vandalisme

    Dari hasil Kajian Risiko Bencana, lanjut dia, beberapa lokasi yang rawan banjir di antaranya Kecamatan Andir, Astanaanyar, Babakan Ciparay, dan Bandung Kulon. Lalu Kecamatan Bandung Kidul, Panyileukan, Batununggal, Bojongloa Kidul, Rancasari, dan Kecamatan Kiaracondong.

    “Jika melihat dari wilayahnya memang lebih banyak sekarang terjadi banjir di Bandung Selatan karena perubahan ekosistem dan karena dilairi enam sungai. Sedangkan longsor cenderung di Bandung Timur karena kurang daerah serapannya,” dia menuturkan.

    Oleh karena itu, pihaknya terus memantau bersama aparat kewilayahan ke daerah yang sering terjadi bencana. Pihaknya terus mengedukasi masyarakat untuk belajar melihat potensi dan gejala terhadap perubahan sosial juga.

    “Misalkan, masyarakat harus menjaga selokan, jangan buang sampah sembarangan. Dari pihak pemerintah pun sudah membantu dengan membangun kolam retensi untuk mencegah banjir,” kata dia.

    Sepanjang Januari-September 2022, kejadian bencana hidrometeorologi di Kota Bandung mencapai tiga kasus. Satu kasus banjir di Rancasari, dan dua kasus longsor.

    “Tidak ada korban jiwa, tapi kerugian materi. Ada rumah yang temboknya runtuh. Sebanyak 21 rumah terdampak banjir. Itu terjadi pada April 2022,” Amires menambahkan.

    Sedangkan pada 2021, jumlah kasus banjir sebanyak 6 kejadian. Yakni bencana longsor 3 kejadian, dan angin kencang sebanyak 4 kejadian.

    Menurutnya, bencana merupakan urusan bersama semua sektor pentahelix. Sehingga, selama setahun ini, Damkar PB telah menyusun penanggulangan bencana bersama perangkat lain.

    “Kewaspadaan masyarakat memang masih kurang. Harus secara masif kita berikan pemahaman bagi masyarakat jika bencana itu terus mengintai,” kata Amires.

    Terlebih ia menilai, bencana tahun ini akan cenderung ke kasus longsor jika dilihat dari pergerakan tanahnya.

    “Kami mengimbau melalui aparat wilayah untuk mewaspadai potensi atau gejala-gejala alam. Kami sedang menyusun surat untuk aparat wilayah, camat, dan lurah,” dia menegaskan.

    (Yusuf Mugni/Ageng)

    Berita Terbaru

    spot_img