spot_img
Sabtu 1 Oktober 2022
spot_img
More

    Sekte Agama Antivaksin Halangi Imunisasi Campak di Zimbabwe

    ZIMBABWE,FOKUSJabar.id: Wabah campak telah menjangkit lebih dari 6.000 orang di Zimbabwe. Wabah yang dimulai pada April itu, sampai saat ini telah merenggut 698 nyawa anak-anak.

    Namun, langkah untuk melakukan vaksinasi terhambat keyakinan sekte agama yang menentang pengobatan modern. Sebagian besar anak-anak yang meninggal berasal dari keluarga yang menolak vaksin karena dilarang pemuka agamanya.

    Beberapa pihak menyarankan diberlakukan undang-undang wajib vaksinasi. Cara lain secara khusus adalah sosialisasi menumbuhkan kesadaran bahaya penyakit di komunitas agama yang antivaksin.

    Pada Selasa (6/9/2022), pemerintah Zimbabwe mengatakan bahwa ribuan orang warganya telah terinfeksi penyakit campak sejak wabah itu dimulai pada April. Sebanyak 698 orang telah tewas, sebagian besar anak-anak dan remaja.

    Campak adalah salah satu penyakit menular yang menyebabkan ruam, batuk dan demam tinggi. Penyakit itu bisa berakibat sangat fatal bagi anak-anak yang tidak divaksinasi.

    BACA JUGA: Waduh, Indonesia Urutan 3 TBC Terbanyak di Dunia

    “Jadi, yang kita miliki di Zimbabwe saat ini adalah karena jumlah anak yang tidak divaksinasi meningkat karena beberapa faktor: masyarakat yang tidak nyaman untuk memvaksinasi anak-anak mereka, gangguan layanan vaksinasi karena pandemi COVID-19 baru-baru ini,” jelas Alex Gasarira, perwakilan WHO di Zimbabwe dikutip VOA News.

    Kementerian Kesehatan Zimbabwe menyalahkan beberapa sekte agama. Para pemimpin mereka disebut kerap berkhotbah menentang vaksinasi.

    Pada dasarnya campak adalah penyakit fatal paling menular yang dapat dicegah. Tapi masalahnya beberapa sekte agama di Zimbabwe menentang vaksin dan pengobatan modern.

    Selama wabah COVID-19, pemerintah Zimbabwe bahkan terus melakukan vaksinasi campak pada anak-anak namun upaya itu terhambat oleh kelompok sekte agama yang menolak vaksinasi tersebut.

    Melansir Deutsche Welle, sekte Apostolik Johane Marange adalah salah satu yang menolak vaksin.

    Doktrin pemuka agamanya tidak mengizinkan anggota jemaah untuk divaksinasi atau mencari perawatan medis ketika sakit.

    “Jika ada yang sakit, mereka akan pergi ke para penatua agama untuk berdoa,” kata Kuziva Kudzanai, salah satu anggota jemaah. Dia juga mengatakan mencari perawatan medis adalah dosa.

    Kementerian Kesehatan Zimbabwe menjelaskan, pertemuan para jemaah yang dilakukan setelah ada pelonggaran batasan COVID-19 menyebabkan campak menyebar ke daerah yang sebelumnya tidak terkena wabah tersebut.

    Campak sebagai penyakit yang menular di Zimbabwe telah menimbulkan kekhawatiran tentang meningkatnya jumlah kematian.
    Johannes Marisa, presiden dari Asosiasi Praktisi Medis dan Gigi Swasta Zimbabwe, mengatakan pemerintah diharapkan meningkatkan kampanye vaksinasi massal lewat program menyadarkan masyarakat.

    “Karena perlawanan, pendidikan mungkin tidak cukup, sehingga pemerintah juga harus mempertimbangkan untuk menggunakan langkah-langkah koersif untuk memastikan tidak ada yang boleh menolak vaksinasi untuk anak-anak mereka,” kata Marisa, seperti dilansir IDN.

    Marisa juga mendesak pemerintah Zimbabwe untuk mempertimbangkan pemberlakuan undang-undang. Dengan begitu, vaksinasi terhadap penyakit pembunuh seperti campak bisa dicegah.

    Dana anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) sangat prihatin dengan jumlah kasus dan kematian di antara anak-anak. UNICEF mengatakan sedang membantu pemerintah memerangi campak lewat program imunisasi.

    Wabah campak di Zimbabwe pertama kali dilaporkan di provinsi Manicaland di timur pada awal April.

    Wabah kemudian menyebar ke seluruh bagian negara tersebut. Banyak dari laporan kematian adalah anak-anak yang tidak mendapat vaksin.

    Sampai 4 September, menurut RFI, ada 6.291 kasus infeksi campak yang telah didaftarkan. Pada 1 September, ada 37 kematian sekaligus dalam satu hari.

    Pemerintah Zimbabwe telah memulai kampanye vaksinasi massal dan menjangkau para pemimpin agama untuk meningkatkan kesadaran.

    Para ilmuwan memperkirakan bahwa lebih dari 90 persen populasi perlu diimunisasi untuk mencegah wabah penyakit tersebut.


    (Agung)

    Berita Terbaru

    spot_img