spot_img
Kamis 25 November 2021
spot_img
spot_img

Porserosi Pertanyakan Penggunaan Lintasan Sepatu Roda Saparua untuk Pameran

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Tidak bisa digunakan berlatih oleh tim sepatu roda Jawa Barat pada persiapan menuju PON XX/2021, sarana sepatu roda Saparua justru kini digunakan untuk even pameran. Kondisi ini dipertanyakan pengurus provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) Jabar.

Ketua Umum Pengprov Porserosi Jabar, Erry Sudradjat mengatakan, pihaknya tidak mendapatkan izin untuk penggunaan lintasan sepatu roda. Baik untuk pelaksanaan latihan tim menjelang PON XX lalu maupun untuk pelaksanaan babak kualifikasi Porprov Jabar XIV.

“Ini jelas jadi pertanyaan bagi kami. Sarana tersebut kan lintasan sepatu roda yang notabene untuk kegiatan olahraga sepatu roda. Tapi saat kami meminta izin untuk kegiatan latihan sepatu roda, tidak mendapatkan izin. Termasuk untuk babak kualifikasi Porprov Jabar XIV, kami pun belum mendapatkan izin,” kata Erry saat ditemui di sekretariat Porserosi Jabar, Jalan Jakarta Kota Bandung, Kamis (25/11/2021).

Kondisi ini, lanjut Erry, membuat pihaknya kecewa. Pihaknya mengaku rancu dengan aturan yang dikeluarkan Pemprov Jabar sebagai pemilik lahan sepatu roda Saparua, dalam hal ini Biro Umum Setda Provinsi Jabar.

“Kalau pun kita mendapatkan izin menggunakan lintasan untuk latihan, itu hanya untuk empat orang atlet setiap latihan. Tapi sekarang justru digunakan untuk pameran yang dari sisi jumlah orang pasti akan lebih banyak,” kata dia.

BACA JUGA: Tiga Atlet Squash Jabar Wakili Indonesia di ATC 2021 Malaysia

fokusjabar.id saparua tim sepatu roda PON XX Jabar
Lintasan sepatu roda Saparua Kota Bandung saat digunakan sebagai venue PON XIX tahun 2016. (FOTO: WEB)

Untuk pelaksanaan babak kualifikasi Porprov Jabar XIV yang rencana akan digelar pada Desember 2021, kata Erry, pihaknya sudah mengajukan permohonan izin penggunakan lintasan sepatu roda kepada Biro Umum Setda Provinsi Jabar. Namun hingga saat ini, izin tersebut belum keluar dari pihak yang bersangkutan terkait penggunaan lintasan sepatu roda Saparua untuk babak kualifikasi tersebut.

“Semenjak level PPKM di Kota Bandung turun, beberapa sarana olahraga outdoor sudah bisa digunakan. Tapi untuk yang di Saparua, tetap tidak bisa digunakan dan kalau pun bisa dibatasi hanya untuk empat orang saja. Tapi kini untuk pameran justru diizinkan, ini kan aneh,” kata Erry.

Hal senada diungkapkan salah satu pemilik klub sepatu roda, Annisa Disaintiavitri. Sebelum pandemi Covid-19, Annisa mengaku jika klubnya sudah rutin menggunakan lintasan sepatu roda Saparua untuk berlatih dan mengasah kemampuan para atlenya.

“Saat Covid-19 termasuk PPKM mulai diterapkan, kita tidak bisa dengan leluasa menggunakan lintasan di Saparua dan dibatasi hanya empat orang saja. Kita bisa memaklumi dengan kondisi saat itu, tapi sekarang justru dipakai untuk pameran, untuk kepentingan komersil. Ini jelas sangat menyedihkan bagi kami,” kata Annisa.

Ditengah tuntutan prestasi, lanjut dia, pihaknya tidak bisa melakukan latihan dengan maksimal karena pembatasan yang dilakukan pengelola dibawah kewenangan Biro Umum Setda Provinsi Jabar. Namun tiba-tiba, lapangan yang notabene sebagai sarana olahraga justri digunakan untuk pameran yang dari sisi jumlah orang melebihi ketentuan yang diterapkan Biro Umum Setda Provinsi Jabar sebelumnya.

“Kita berusaha menaati aturan yang berlaku tanpa protes, tapi tiba-tiba sekarang ada pembangunan stand-stand untuk pameran di tengah lintasan. Ini ironis sekaligus aneh dan rancu bagi kami,” Annisa menambahkan,

Untuk itu, pihaknya akan mempertanyakan terkait aturan yang dibuat pihak pengelola dibawah Biro Umum Setda Provinsi Jabar. Bersama dengan pengprov Porserosi Jabar, pihaknya akan meminta kejelasan terkait pemberian izin bagi kegiatan pameran tersebut serta tidak adanya izin untuk kegiatan olahraga sepatu roda.

“Sarana di Saparua itu kan jelas-jelas untuk kegiatan olahraga, khususnya sepatu roda. Yang jelas-jelas untuk peruntukannya tidak diizinkan, tapi untuk kegiatan pameran justru mendapat izin. Terus terang ini aneh dan tidak masuk akal bagi kami,” kata dia.

(Ageng)

Artikel Lainnya

spot_img
spot_img