spot_img
Senin 17 Januari 2022
spot_img

Dolly Surabaya Ditutup, Melati Tetap Berprofesi sebagai PSK

SURABAYA,FOKUSJabar.id: Meski mendapat penolakan keras dari para penghuni Dolly, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, 18 Juni 2014 lalu, menutup tempat pelacuran terbesar se-Asia Tenggara itu.

Penutupannya itu sendiri dideklarasikan di Gedung Islamic Center, Jalan Dukuh Kupang, Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.

Para Pekerja Seks Komersial (PSK) dan mucikari hanya bisa pasrah tempat mencari nafkahnya ditutup Wali Kota.

Baca Juga: Tips Meningkatkan Gairah Seks Pasutri

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, konon diantara PSK pindah ke klub-klub malam di berbagai daerah. Ada juga yang membuka bisnis esek-esek melalui internet (e-Dolly) dan ada juga yang tetap bandel di Gang tempat itu secara terselubung.

Para mucikari berdiri di pinggir jalan. Mereka menawarkan anak buahnya kepada setiap pengguna jalan yang melalui daerah itu. Tarif sekali “main” Rp300 ribu. Dari tarif itu, Pekerja Seks Komersial menerima Rp150 ribu. Sisanya untuk bayar sewa kamar dan mucikari.

Salah satu eks pemuas lelaki hidung belang, Melati (bukan nama sebenarnya) mengatakan, setelah ditutup, wanita cantik ini bekerja di sebuah salon. Meski begitu, dia tetap melayani jasa seks bagi para lelaki hidung belang.

Hal itu dia lakukan karena bekerja di salon tak bisa mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Belum lagi harus mengirim uang ke Kampung halamannya di daerah Madiun setiap seminggu sekali.

“ Atas dasar itu, saya tetap berprofesi sebagai pemuas nafsu para lelaki hidung belang,” beber Melati.

Sumber: BeritaDunia.net

(Bambang Fouristian)

Berita Terbaru

spot_img