Minggu 20 September 2020

Ini Cara Jabar Atasi Spekulan

BANDUNG, Fokusjabar.id : Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar mengkritisi spekulan pangan yang memainkan harga di pasar. Maraknya spekulan ini sangat merugikan masyarakat dan petani, bahkan menjadi salah satu penyebab inflasi.

Spekulan sangat merugikan masyarakat karena terlalu tinggi dalam mengambil keuntungan penjualan. Alhasil harga pangan di pasaran menjadi tinggi sehingga memberatkan masyarakat.

Padahal, kata Deddy, spekulan membeli pangan dari petani dengan harga murah.

“Yang untung spekulan,l. Yang keringatan ya petani, yang berbulan-bulan. Mereka (spekulan) nggak berkeringat, di ruang ac tinggal klik-klik saja. Kan nggak adil,” kata Deddy di kantor Bappeda Jabar, Jumat (5/2/2016).

Selain memainkan harga, adanya spekulan pun menjadi faktor pendorong dilakukannya kebijakan impor.

“Spekulan pasti ada pengaruhnya. Beras impor ini kan murah,” ucapnya.

Kendati begitu, dirinya memahami. Tingkah spekulan itu terjadi karena perniagaan belum tertata dengan baik. Salah satunya karena belum adanya data yang akurat terkait potensi dan ketersediaan produk pertanian.

“Ini karena menggunakan data yang debatable. Sehingga tidak aneh apabila antar kementerian dan badan selalu tidak cocok setiap ada kebijakan impor. Selalu gaduh. Kita tidak berharap lagi ada spekulan-spekulan berbicara tentang impor komoditi ini. Karena informasi ini yang tidak valid,” bebernya.

Tidak adanya data yang akurat ini mengakibatkan tidak teraturnya pola tanam petani. Selama ini petani dibiarkan menanam sesuka hati tanpa arahan dari pemerintah.

Untuk itu, Pemprov akan membentuk Posluhdes yang menyajikan data pertanian di Jabar secara akurat. Selain itu, Posluhdes ini pun bertugas memberi pengarahan ke petani terkait pola tanam yang baik.

Dengan teraturnya penanaman komoditas pertanian ini, diharapkan tidak ada lagi hasil pertanian yang terbuang sia-sia karena stok berlebih. Selain itu, jika terjadi kekurangan stok pun, bisa segera diketahui sehingga bisa diambil kebijakan yang tepat.

“Jadi petani bisa berpikir untuk menentukan tanamannya. Kalau kata penyuluh jangan nanam tomat karena masih banyak, petani bisa ke cabai. Atau sebaliknya. Jadi harga di petani stabil, nggak ada yang busuk karena nggak kejual. Harga di masyarakat pun stabil,” kata dia.

(LIN)

Berita Lainnya

Artikel Lainnya

Viral! Foto X-ray Wanita dengan Ratusan Susuk

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Selebgram Tasqia Alifa Syabira mendadak jadi perbincangan netizen,...

Hengkang ke Liverpool, Thiago Alcantara Dapat Salam Perpisahan

JERMAN,FOKUSJabar.id: Thiago Alcantara mendapat salam perpisahan secara tersirat dari sang pelatih Bayern Munich Hansi Flick. Saat ini, Thiago sedang dalam proses merapat ke Liverpool. Media-media...

Positif Covid-19, Ketua KPU RI Jalani Isolasi Mandiri

JAKARTA,FOKUSJabar.id: Pejabat negara kembali terkonfirmasi positif Covid-19. Kali ini, virus yang menyebabkan infeksi saluran pernafasan, pneumonia berat, hingga kematian ini menimpa Ketua Komisi Pemilihan...

Kelangkaan Pupuk Bersubsidi Mengancam Petani

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: Di tengah ancaman kekeringan akibat kemarau, para petani di Kabupaten Tasikmalaya diresahkan kelangkaan pupuk bersubsidi. Kelangkaan pupuk diduga akibat pihak supplyer lambat mendistribusikan...

Penusukan Ulama, Seorang Syekh Harus Dimuliakan

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Wali Kota Bandung Oded M Danial turut prihatin dengan penusukan ulama Syekh Ali Jaber pada Minggu (13/9/2020) kemarin. Sosok syekh, seharusnya dimuliakan para jemaahnya. "Kita...

PDAM Tirta Sukapura Tasikmalaya Jamin Air Bersih Cukup Hingga Kemarau

TASIKMALAYA,FOKUSJabar.id: PDAM Tirta Sukapura Tasikmalaya menjamin ketersediaan air bersih bagi masyarakat akan tetap aman dan mencukupi dalam memenuhi kebutuhan, untuk menghadapi musim kemarau nanti. Pelaksana...

Teror Mycetoma, Bakteri dan Jamur Licik Pemakan Daging

BANDUNG,FOKUSJabar.id: Sebuah kasus kesehatan yang belum banyak orang tau terjadi pada seorang petani asal Sudan, Khadija Ahmad yang mengalami infeksi jamur pemakan daging yang...