Nasi Jamblang Tulen Hanya Dimasak Kayu Bakar

0
323
Proses memasak lauk pauk dan nasi Jamblang masih tradisiopnal untuk memperatahankan rasa, kualitas dan kuantitas (Foto : Panji)
CIREBON, Fokusjabar.id : Seluruh anggota keluarga keturunan Nyonya Pulung maupun pekerjanya tampak sibuk mempersiapkan hidangan tradisional untuk pembeli.  Masing-masing anggota keluarga fokus bekerja sesuai bidangnya. Mulai dari memasak nasi, lauk pauk, membungkus nasi hingga melayani pembeli.
“Kalau satu orang ngurusin banyak masakan hasilnya tidak maksimal dan itu yang kami  dapat sejak dulu. Dan ternyata kami cukup sadar hasilnya sangat maksimal,” sebut penerus Nasi Jamblang Tulen, Emon.
Pegawai warung Nasi Jamblang Tulen pertama di Cirebon rata-rata adalah keluarga dan keturunan peawai pada generasi sebelumnya (foto : Panji)
Pegawai warung Nasi Jamblang Tulen pertama di Cirebon rata-rata adalah keluarga dan keturunan peawai pada generasi sebelumnya (foto : Panji)
Di tengah perkembangan dunia kuliner, nasi jamblang ini tetap menggunakan daun jati sebagai pengganti piring dan pembungkus nasi. Ini karena selain memberikan aroma yang khas, nasi yang dibungkus tidak cepat basi.
Di sisi lain, daun jati mempunyai pori-pori yang lebih lebar dibandingkan dengan daun pisang atau plastik. Adapun cara memasak lauk pauk dalam menu nasi jamblang masih dengan cara yang tradisional.
Yakni menggunakan kayu asem sebagai bahan bakar untuk memasak nasi jamblang beserta lauk pauknya. Dia menjelaskan, menanak nasi harus dilakukan dengan cara tradisional khususnya menggunakan kayu bakar saat dimasak.
Pegawai warung Nasi Jamblang Tulen pertama di Cirebon rata-rata adalah keluarga dan keturunan peawai pada generasi sebelumnya (foto : Panji)
Pegawai warung Nasi Jamblang Tulen pertama di Cirebon rata-rata adalah keluarga dan keturunan peawai pada generasi sebelumnya (foto : Panji)
“Ada perbedaan yang khas dan mencolok antara memasak dengan menggunakan gas atau minyak tanah dengan menggunakan kayu bakar. Yakni citarasanya yang membuat jamblang kami bertahan,” ungkapnya.
Beras juga, sebutnya, harus dicuci sampai bersih, ditanak di dalam kukusan diatas dandang berisi air yang mendidih kemudian dikarih sampai tanak.
“Bahkan menurut kami nasi yang benar-benar layak menjadi teman lauk pauk jamblang  ketika nasi tersebut benar-benar pulen, dingin dan tidak menyisakan uap. Jadi nasi itu tidak akan pecah kalau dikepel kemudian dilemparkan ke tembok,” akunya.
Sementara itu, pihak keluarga mengaku bangga karena warisan sejarah dan pribumi Cirebon ini semakin berkembang dan lestari. Terbukti, seiring dengan perkembangan zaman, varian dari lauk pauk nasi jamblang semakin banyak.
Olehnya, salah satu upaya mempertahankan warisan budaya, Jamblang Tulen berencana akan memperluas tempat usahanya. Warung yang berada di depan apotik Jamblang tersebut rencana akan diperlebar dengan menambah lahan parkir.
Sementara di bagian belakang yang berdekatan dengan ruang dapur akan dibuat ruang serbaguna. Serta sebagian akan dijadikan musium atau wisata sejarah nasi Jamblang.
“Agar masyarakat tahu bagaimana asal usul nasi jamblang itu. Ya ini salah satu upaya kami untuk mempertahankan warisan kuliner dengan konsep yang tradisional,” harapnya. (Panji/MSU)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini